Panorama Rasionalitas

Panorama Rasionalitas
(Dari Yunani Hingga Modernitas)

Apakah filsafat? Jika dibahasakan dengan mudah, filsafat adalah elaborasi relasi saya (manusia) dengan dunia. Filsafat berada pada rincian aneka kepentingan refleksi pemahaman dunia saya. Dunia di sini bukan semata dunia fisik, alam, gunung, sungai, sawah. Melainkan dunia dalam arti yang luas, mendalam, melimpah. Dunia mencakup segala perkara yang berurusan dengan hidup saya (hidup, mati, makna hidup, Tuhan, kejahatan). Filsafat menyoal tentang manusia, karena soal manusia adalah soal dunia hidup saya. Filsafat merefleksikan ‘Siapakah aku,’ karena wacana tentag aku sebagai manusia yang menyejarah menunjuk langsung kepada dunia hidupku. Dan, demikian, bahkan filsafat menggaggas tentang Tuhan, karena refleksi ‘Sang Ada Absolut’ mengisi ruang hidupku. Dengan singkat kata, filsafat berupa elaborasi hubungan saya dengan dunia yang saya hidupi.

Jika kita melihat secara singkat, elaborasi relasi manusia dengan dunia dalam sejarah perkembangan filsafat akan dijumpai suatu alur yang mengalir. Mula-mula, pada zaman sebelum filsafat (dalam artian umum), manusia memahami dunia dengan segala peristiwanya dalam mitos-mitos. Hujan, misalnya, merupakan tangisan dewi. Penjelasan hujan sebagai tangisan dewi merupakan mitos, sebab penjelasan itu tidak menyentuh halnya.
Menurut pemikiran modern, hujan tidak lain merupakan jatuhnya uap air dari udara setelah mencapai titik suhu kenisbian tertentu. Namun, harus dipahami bahwa mitos tidak mengatakan salah benar suatu penjelasan. Dalam pemahaman kemudian, akan dijumpai bahwa mitos sebenarnya bukanlah dimaksudkan untuk menjelaskan halnya (hujan) atau proses peristiwanya (berupa air turun dari atas). Melainkan mitos dimaksudkan untuk melukiskan relasi manusia dengan alam, dengan dunianya, bahkan dengan realitas yang mengatasi hidupnya. Misalnya, apabila hujan turun berlebihan dan menyebabkan banjir, orang langsung bertanya apa yang dikehendaki dewa terhadap manusia. Atau, banjir dimengeri dalam kaitannya dengan bentuk ungkapan kemarahan dewa/dewi atas hidup manusia yang dirasa tidak memenuhi ketentuan yang digariskan oleh sang penyelenggara kehidupan. Jadi, mitos bukan penjelasan hal atau peristiwa hujannya melainkan elaborasi relasi manusia dengan dunianya.
Periode awal kelahiran filsafat Yunani ditandai dengan campur baur mentalitas berpikir. Tidak sepenuhnya mitos ditinggalkan. Tetapi gerakan intelektual yang berusaha menarik garis tegas antara penjelasan mitologis dan ilmiah juga makin menghebat. Apa yang disebut sebagai ‘ilmiah’ dalam periode awal filsafat Yunani jelas berbeda dengan periode modern. Ilmiah dalam Yunani awali berkaitan dengan argumentasi, refleksi, predikasi. Sedangkan dalam periode modern, keilmiahan menunjuk kepada metodologi. Apalagi dengan kebangkitan ilmu-ilmu empiris (ilmu yang mendasarkan diri pada fakta, data, realtias) yang mengalir kepada ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial, pergumulan keilmiahan berarti pergumulan seputar metodologi. Elaborasi filsafat Yunani awali berkutat pada pencarian arche.
Arche merupakan terminologi filosofis untuk menyebut prinsip, asal-usul. Dengan menemukan arche, orang bisa menjelaskan segala apa yang ada dalam suatu cara yang mengesankan. Misalnya, bagaimana segala yang ada ini hendak dijelaskan? Segala yang ada berasal dari air. Airlah prinsip ada. Itu pendapat Thales. Filosof lain akan memiliki pandangan lain, prinsip segala yang ada adalah udara. Ada lagi yang menyebut tanah. Tapi, ada juga yang berkata ketiga-tiganya, air, udara dan tanah. Dan seterusnya. Pandangan filsafat Yunani awali – karena menyebut air, udara dan semacamnya – disebut filsafat alam. Maka, para filosof awali adalah para filosof alam.
Perkembangan filsafat Yunani mencapai puncak sistematis pada pemikiran Aristoteles. Plato dari sendirinya perlu juga disebutkan di sini. Tetapi, elaborasi tentang relasi dunia dengan manusia ditemukan dalam cara yang mengesankan pada Aristoteles, tanpa mengecilkan peran hebat dari filsafat Plato juga. Bagi Aristoteles, relasi manusia dengan dunia identik dengan relasi rasio (akal budi) dan realitas. Artinya, pengetahuan manusia tentang dunia adalah pengetahuan rasional tentang realitas. Dalam Aristoteles, untuk pertama kalinya dalam sejarah filsafat, apa yang disebut dengan pengetahuan adalah soal relasi kesesuaian antara apa yang ada dalam akal budi dengan objek real yang diketahui (di luar akal budi). Plato tidak memikirkan demikian. Kesejatian pengetahuan platonis menunjuk dan merujuk pada Forma atau Idea. Kesejatian maksudnya keuniversalan.
Berbeda dengan Aristoteles yang realis, Plato adalah seorang idealis. Kembali kepada Aristoteles. Dalam Aristoteles, pengetahuan itu memiliki makna, jika pengetahuan itu benar, sahih, valid. Dan apa yang dimaksudkan dengan soal kebenaran, kesahihan, kevalidan adalah soal verifikasi apa yang ada dalam rasio dengan objek realnya di luar rasio. Jika suatu pengetahuan akal budi benar, itu maksudnya pengetahuan itu sesuai dengan objek real (objek nyata sehari-hari seperti kuda, meja, dll). Dan, kebalikannya, jika pengetahuan salah, artinya pengetahuan itu tidak sesuai dengan objeknya. Contoh, Indonesia terdiri dari tujuh belas ribu pulau. Ini benar hanya apabila memang ada sekian jumlahnya dalam kenyataan. Bila ternyata tidak sampai tujuh belas ribu pulau, berarti pengetahuan itu salah. Dengan demikian, kebenaran suatu ilmu pengetahuan – dalam cara berpikir Aristotelian – ialah kebenaran objektif. Kebenaran objektif berarti kebenaran yang menunjuk kepada realitas objeknya. Dalam filsafat Aristotelian, kebenaran objektif adalah kebenaran universal. Berbeda dengan Plato, kebenaran universal tidak pernah menunjuk kepada objek real. Sebab objek real adalah percikan (model) dari realitas universal, Idea. Gagasan Aristoteles menjadi semacam pondasi metodologi untuk ilmu pengetahun modern. Maksudnya, ilmu pengetahuan bertumpu pada objek realnya. Suatu pernyataan ilmiah ditarik dari realitas objektifnya. Inilah sebabnya seringkali filsafat Aristoteles disebut sebagai filsafat esse. Artinya, filsafat Aristotelian bertolak dari ada, dari realitas, dari segala apa yang ada.
Dalam konteks epistemologis, filsafat Aristotelian terus berlangsung sampai Descartes muncul. Descartes adalah pendobrak gaya justifikasi model Aristotelian. Dia tidak bertolak dari objek, melainkan dari subjek. Apa artinya bertolak dari subjek? Artinya bertolak dari apa yang paling melukiskan subjektivitasnya, yaitu rasio, akal budi, kesadaran diri. Filsafat Descartes seringkali disebut sebagai filsafat kesadaran, semata-mata karena ia melucuti pengetahuan dari dimensi objektifnya. Pengetahuan itu urusan kesadaran. Urusan apa yang paling menentukan subjektivitas seseorang. Orang mengetahui kapal, misalnya, itu berarti akal budi orang itu sedang ‘menyadari’ kapal. Descartes berkata dengan benar, cogito ergo sum (saya berpikir maka saya ada). Kesadaran mendahului ada. Atau, cogito (saya menyadari, berpikir) mendahului sum (realitas ada saya). Filsafat Descartes juga disebut filsafat Cogito, filsafat ‘saya berpikir’, atau dengan kata lain filsafat kesadaran. Ergo Sum (maka saya ada) lantas mengalir dari kesadaran. Pada poin ini, saya berpikir/menyadari mendahului realitas ada saya. Ketika saya berpikir, setan pun tidak dapat menyangkalnya atau bahkan ketika saya bertanya, apakah saya sedang berpikir, justru itu menunjukkan bahwa saya sedang berpikir/menyadari. Dengan demikian, dalam Descartes, seluruh elaborasi mengenai ada saya berangkat dari kesadaran.
Karena kesadaran memiliki karakter subjektif, maka juga soal pengetahun benar atau salah sangat berurusan dengan subjektivitas. Artinya, dalam cara berpikir demikian, objektivitas (kebenaran yang berkaitan dengan objeknya) mulai ditinggalkan. Nanti Descartes akan menegaskan bahwa apa yang disebut dengan pengetahuan adalah ingatan sejauh manusia menyadari. Pengetahuan manusia adalah ‘bawaan’ sejak lahir. Mengenal atau mengetahui berarti mengingat kembali ide bawaan sejak lahir tersebut. (Mirip gagasan Plato, but let’s go on)
Dikatakan bahwa Descartes mendobrak filsafat Aristotelian, di mana letak pendobrakkannya? Di sini, bahwa sejak Descartes peran rasio makin mengemuka dan menghebat. Maksudnya, akal budi manusia benar-benar hampir menjadi segalanya dalam tataran filsafat. Rasionalisme, dalam konteks epistemologis, praktis menunjuk pada filsafat Descartes. Kepastian ilmu pengetahuan bukan lagi perkara relasi atau kaitan rasio dengan realitas, melainkan perkara kesadaran rasional manusia. Kerja tentang perkara sesuai atau tidaknya antara akal budi dengan objek realnya ditinggalkan. Ide tentang subjektivitas atau subjektivisme (kalau itu berurusan dengan paham) berangkat dari filsafat Cartesius (Rene Descartes).
Rasionalisme Cartesian mengalami puncak elaborasi pada filsafat Immanuel Kant. Dalam Kant, ilmu pengetahuan bukan ingatan (Descartes), bukan pula kesesuaian antara rasio dan realitas (Aristoteles), melainkan sintetis apriori. Artinya, pengetahuan itu ada dalam akal budi sendiri yang memiliki struktur kategoris. Seakan-akan akal budi itu sendiri yang memproduksi pengetahuan. Kant menulis buku Critique Of Pure Reason, buku yang menggariskan filsafatnya tentang akal budi murni. Murni artinya tidak tercampur. Tak tercampur apa? Tak tercampur pengalaman. Pengetahuan itu disebut sintetis apriori sebab pengetahuan itu tidak mengandaikan pengalaman. Bagi Kant, realitas itu tertutup. Akal budi kita tidak mungkin menembusnya. Mengenai realitas, Kant membedakan dua hal: realitas dalam dirinya sendiri dan dalam dalam penampakkannya. Suatu pengetahuan tentang realitas dalam dirinya sendiri tidak mungkin (misal, tentang Tuhan). Kesadaran kita tertutup sama sekali mengenai suatu realitas dalam dirinya sendiri. Pengetahuan kita adalah seputar penampakkannya. Karena tesis filosofis yang demikian, maka dalam Kant, manusia sesungguhnya tidak tahu apa-apa. Maksudnya, bukan tidak peduli, tapi skema pengetahuan manusia tentang realitas sudah ada dalam akal budinya. Bukunya yang sangat terkenal itu diberi judul Critique, bukan karena mengemukakan kritik-kritik tapi buku itu menjadi semacam diskursus final dan tuntas tentang pengetahuan manusia. Disebut Critique juga lantaran akal budi atau rasio perlu didisiplinkan. Mengapa perlu didisiplinkan? Karena rasio atau akal budi memiliki batasan-batasannya. Filsafat Kant membuat krisis metafisika Aristotelian dan itu berarti juga teologi Kristiani (karena teologi Kristen bergerak dari model berpikir Aristotelian). Mengapa? Karena dengan Kant, Esse atau realitas seakan tidak diperlukan lagi. Pengetahuan sudah tercakup dalam akal budi manusia sedemikian rupa. Critique of pure reason menisbikan pengalaman akan realitas. Padahal Thomas Aquinas misalnya, kalau memberi kuliah tentang pembuktian eksistensi Tuhan berangkat dari pengalaman akan realitas. Umpamanya dalam jalan pertama bukti eksistensi Tuhan, Aquinas menyebut pengalaman bahwa segala apa yang ada ini bergerak. Nah, gila bukan itu filsafat Kantian. Ia benar-benar membuntu secara telak diskursus tentang Tuhan dari pengalaman.
Ilmu-ilmu empiris memiliki jalur yang lain lagi. Para ahli ilmu empiris (natural scientist) menggagas keilmiahan dalam suatu cara yang baru sama sekali. Keilmiahan berurusan dengan metodologi. Metodologi ilmiah bagi para ilmuwan ilmu-ilmu alam berarti metodologi penelitian yang memiliki komponen karakteristik: eksperimental, kalkulatif, matematis. Segala apa yang tidak bisa dihitung, dikalkulasi, distatistikkan itu omong kosong belaka. Cuma ilusi. Para punggawa ilmu-ilmu empiris tidak main-main. Sebab, memang siapakah yang dapat membuktikan bahwa dalil-dalil matematis tidak abadi. Tidak ada yang dapat melampaui kepastian kebenaran matematis.
Gaya berpikir yang mengedepankan cara-cara perhitungan semacam ini – dalam perkembangan filsafat selanjutnya – disebut positivisme. Artinya sebagaimana dimaksudkan dalam terminologinya sesuatu itu disebut sahih, valid, benar kalau bisa ‘diletakkan’. Maksudnya, sesuatu itu meyakinkan bila dapat dihitung, dikalkulasi, dieksperimentasikan. August Comte adalah tokoh positivisme untuk bidang ilmu sosial, yang kemudian akan dikenal dengan sebutan sosiologi. Warisan positivisme Comte diteruskan oleh para ahli sosial yang hampir semuanya meninggalkan cara-cara berpikir yang spekulatif, bawaan semangat abad pertengahan.
Comte di sosiologi. Di bidang psikologi (dimulai oleh Wilhem Wundt yang mendirikan laboratoriun untuk penelitian psikologi yang kemudian dikenal sebagai psikologi eksperimental), model-model eksperimentasi dengan hitungan-hitungan prediktif juga sangat dominan. Dalam ilmu psikologi, gaya berpikir yang semacam itu lantas pada awal abad keduapuluhan disebut sebagai psikologisme. Positivisme dalam psikologi menjadi puncak kejayaan perkembangan ilmu-ilmu humanistik.
Tetapi, seorang ahli matematika yang amat tersohor justru gelisah. Gelisah oleh pertanyaan, benarkah sebuah ilmu pengetahuan itu baru meyakinkan kalau sudah menunjukkan hitungan matematis yang sahih dan valid? Tidakkah, bila demikian halnya, kebenaran itu seakan lantas hanya menjadi hak paten dari satu dua orang yang bernama ilmuwan belaka? Benarkah kebenaran itu hanya milik dari segelintir orang yang tahu statistik, hitungan aritmatika, geometri? Ahli matematika itu adalah Edmund Husserl.
Husserllah pencetus fenomenologi, meski Brentano mengatakan terlebih dahulu hal yang kurang lebih sama. Apakah fenomenologi? Fenomenologi itu filsafat, ilmu pengetahuan sekaligus metodologi. Fenomenologi membuka horizon cara berpikir baru dalam filsafat sekaligus menggebrak kesombongan para ilmuwan positivistik dan menjadi sekaligus metode untuk meraih kebenaran yang mencengangkan.
“Kembali kepada benda-benda itu sendiri”. Demikianlah emblem fenomenologi Husserl yang diperkenalkannya sebagai upaya menolak penjelasan psikologisme dan positivisme atas realitas ini.[1] Menurut Husserl, kita tidak perlu memaksakan kategori-kategori pemikiran kita atas realitas. Sebaliknya, biarlah realitas menampakkan diri apa adanya.[2] Apa yang ditampakkan oleh realitas sejauh ia ada, dapat ditangkap oleh kesadaran. Kesadaran karena itu tidaklah pasif. Pada poin ini, Husserl dapat berkata bahwa kesadaran adalah kesadaran yang bertujuan.
Struktur kesadaran sebagai intensionalitas ini memang masih menempatkan manusia tetap sebagai pusat makna. Karena itu, yang dicari dalam fenomenologi ini adalah apa makna hidup manusia. Maka, dalam fenomenologi Husserl, tema sentral diletakkan pada lebenswelt, yakni dunia hidup kita sehari-hari. Bagaimana Husserl memulai analisa fenomenologisnya untuk sampai kepada benda-benda itu sendiri (esensi benda itu)? Husserl memperkenalkan sebuah metode yang disebut reduksi fenomenologis. Reduksi fenomenologis adalah sebuah penundaan (epoche, bracketing) terhadap pandangan sehari-hari untuk sampai kepada halnya. Ada tiga tahap reduksi.[3] Pertama, reduksi fenomenologis yang memaksudkan penyingkiran segala sesuatu yang bersifat subjektif. Kedua, reduksi eidetik yang



[1] Lih. Dermot Moran. An Introduction to Phenomenology. London: Routledge, 2000. Hal. 9. Bdk. Edmund Husserl. Ideas I. bag. Introduction di mana ia berkata, “Kritikku terhadap metode psikologi tidaklah bermaksud untuk menolak sama sekali nilai psikologi itu sendiri….Yang aku kritik adalah bahwa metode psikologi memberikan kepastian hampa dalam arti metodenya sendiri itu cacat sehingga cara kerja ini perlu diangkat ke taraf yang lebih tinggi. Taraf yang lebih tinggi inilah yang dinamakan Fenomenologi Murni atau Transendental di mana disiplin ilmu ini berurusan dengan Science of Essence (as an ‘eidetic’ science).” (Terjemahan dari penulis sendiri)
[2] Sebagai Contoh, jika Anda ditanya, “Apakah matahari itu?” Anda mungkin menjawab bahwa matahari adalah pusat tata surya. Jawaban ini memang tidak salah. Tapi, secara fenomenologis, jawaban ini belum dapat dikatakan benar. Seorang fenomenolog adalah seorang pemula dalam arti pemula dalam segala pengetahuan. Seorang fenomenolog justru mempertanyakan segala hal (pendapat orang, ide, gagasan dan sebagainya). Seorang fenomenolog tidak mengikuti begitu saja apa yang dikatakan atau apa yang telah ditetapkan sebagai demikian. Jadi, bagi seorang fenomenolog, matahari itu pertama-tama adalah panas. Panas karena fenomena atau gejala pertama yang kita rasakan dari matahari adalah panas.
[3] Mudji Sutrisno & F Hardiman (eds.). Para Filsuf Penentu Gerak Zaman. Yogyakarta: Kanisius, 2002. Hal. 90-91.

memaksudkan penyingkiran sementara objektivitas yang menyelubungi esensi benda tersebut. Reduksi pada tahap kedua ini sesungguhnya merupakan penundaan anggapan terhadap struktur-struktur yang mendasari adanya benda tersebut. Dan ketiga, reduksi transendental yang memaksudkan penyingkiran terhadap kesadaran yang bukan kesadaran murni. Ketika kita sampai pada kesadaran murni berarti kita sampai kepada apa (esensi) yang menampakkan diri apa adanya kepada kita.
Struktur kesadaran yang bersifat intensionalitas membuat Husserl mampu untuk membuka kembali Cogito tertutupnya Descartes. Ini terjadi karena pengalaman akan dunia mendahului semua pengetahuan.[1] Dunia, karena itu, dalam kerangka fenomenologi tidak berada atau terlepas dari manusia. Dunia dan manusia adalah satu. Tanpa dunia, segala pemahaman dan pengetahuan tidaklah mungkin terjadi. Salah satu murid Husserl, Heidegger, akan melengkapi tapi sekaligus mendobrak pendirian gurunya ini. Bagi Heidegger, dalam perjalanan selanjutnya, ego transendental Husserl justru identik dengan realitas murni. Dengan kata lain, ego transendental tidak menambah sesuatu yang baru.[2] Mengapa? Bagi Heidegger, pemikiran Husserl masih berorientasi pada kesadaran itu sendiri. Heidegger melihat bahwa ada yang lebih mendasar dari persoalan relasi kesadaran dengan realitas, yakni keber-ada-an. Dengan bantuan fenomenologi[3], Heidegger berupaya menggarap permasalahan ini. Dalam Being and Time (buku utama Heidegger), penggunanan fenomenologi justru menjadikan karyanya tersebut bersifat hermeneutis[4]. Dengan kata lain, Heidegger berupaya melihat seluruh perkembangan sejarah pemikiran filosofis dalam kerangka hermeneutis. Hal ini terutama menyangkut tema Ada yang merupakan persoalan utama Heidegger. Karena itu, ontologi harus menjadi fenomenologi tentang Ada. Selanjutnya, fenomenologi harus menjadi hermeneutika mengenai eksistensi. Eksistensi di sini merujuk pada eksistensi manusia lantaran hanya manusia yang dapat mempertanyakan adanya sehingga dapat membuka ruang (kemungkinan) untuk memahami Ada. Pada poin ini, eksistensi manusia diistilahkan Heidegger dengan Dasein yang artinya ada (Sein) di sana (Da).
Tidak digunakannya konsep manusia (human being, man), menurut Heidegger, lantaran konsep tersebut kerap dipahami sebagai yang sudah jadi, selesai, statis dan dalam arti tertentu cenderung dilihat sebagai objek (dalam relasinya dengan subjek). Karena itu, terminologi ‘di sana’ hendak menunjukkan suatu proses menjadi, dinamis yang hanya selesai ketika Dasein mati. Tapi, bagaimana Dasein dapat mengenal dirinya sebagai demikian? Untuk menjawab ini perlulah memahami apa yang dimaksud Heidegger dengan dunia. Bagi Heidegger, Dasein haruslah dipahami sebagai berada-dalam-dunia. Dunia dalam pemahaman Heidegger bukanlah berada dalam pengertian objek. Artinya, dengan meneliti dunia, kita dapat menghasilkan pemahaman mengenai diri kita sendiri. Misal, seorang ilmuwan yang mencari data bagi kepentingannya. Ilmuwan ini dalam usahanya mencari data justru memisahkan diri dengan apa yang hendak dicari itu. Bahkan tanpa disadari juga kerap ilmuwan menetapkan kategori-kategori pemikiran atas apa yang diteliti. Karena itu, hasilnya justru tanpa disadari sudah berada dalam kerangka kesadaran si ilmuwan. Inilah yang kemudian menjadi kritik terhadap nilai kesahihan dari pengetahuan yang dihasilkan. Dengan kata lain, dapat ditanyakan, apakah ilmu sungguh-sungguh bebas nilai (nilai kepentingan, kekuasaan, subjek si peneliti, dan sebagainya).
Dunia adalah tempat Dasein mengada, tempat penyingkapan Dasein (pengungkapan Ada itu sendiri). Dasein tanpa dunia adalah tidak mungkin sebab Dasein tidak akan pernah dapat melihat dan memahami entias-entitas lainnya (seperti benda-benda, manusia lainnya) juga dirinya lepas dari dunia ini. Lebih lanjut, penggunaan tanda hubung (-), menegaskan ketakterpisahan Dasein dengan dunia. Dari poin tersebut dapat dimengerti bahwa bagi Heidegger kesadaran bukanlah semata kesadaran akan sesuatu, melainkan kesadaran pada dasarnya adalah kesadaran dalam atau sebagai sesuatu. Maksudnya, kita tidak sekedar menyadari sesuatu melainkan sesuatu itu turut membentuk kesadaran kita.


[1] Dalam perjalanan selanjutnya, Ricoeur akan mengatakan bahwa karena kesadaran adalah kesadaran akan sesuatu, maka bahasa adalah bahasa mengenai sesuatu. Pemahaman ini menghantar Ricoeur pada analisanya mengenai diskursus di mana peristiwa dan makna terkandung di dalamnya dan bersamaan dengan itu siapa subjek dari diskursus akan diulas olehnya juga. Lih. Ricoeur. The Hermeneutical Function of Distanciation dalam majalah Philosophy Today (1973).
[2] Dalam kata pengantarnya terhadap fenomenologi Husserl. Lih. Merleau-Ponty. Phenomenology of Perception. Colin Smuth (terj.). London: Routledge & Kegan Paul Ltd., 1962.
[3] Lih. Richard E Palmer. Hermeneutics. Hal. 128-132.
[4] Secara khusus dapat dilihat pada Being & Time, bag. 8 yang berbicara mengenai metode investigasi fenomenologis. Hal. 49-63.
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner

-->