HERMENEUTIK

PENGANTAR HERMENEUTIK

I. Pendahuluan

Pengertian
                Hermeneutik berasal dari kata “Hermeneutics (Inggris), dan kata ini berasal dari “hermeneuo” (Yunani). Arti kata ini adalah menginterpretasi, menjelaskan, atau menterjemahkan. Kata ini berhubungan dengan cerita mitos Yunani yaitu dewa Hermes yang bertugas sebagai penyambung berita dari para dewa kepada manusia. Dengan demikian dari sejak semula penggunaannya kata ini tidak dipakai untuk penafsiran Alkitab saja.
                Secara umum arti kata ini menunjukkkan penggunaannya pada peraturan-peraturan yang dipergunakan untuk mencari arti sesunguuhnya misalnya kesenian, sejarah, literatur, purbakala dan penerjemahan. Bahkan dalam hidup sehari-hari untuk cara-cara tertentu kita harus menfsirkan sesuatu untuk memahami apa yang dlihat dan didengar oleh seseorang. Ketika kita mengendarai mobil dan di sebuah tikungan ada tanda “awas ada lobang 200 meter!”, seseorang pasti langsung menafsir tanda itu. Apakah rambu itu masih berlaku dan lupa dicabut, Apakah dalam jarak 200 ada lobang di depan atau apakah ada lobang sepanjang 200 meter? Dll. Dalam mennetukan arti yang sebenarnya dari rambu inilah yang bersangkutan harus mempergunakan metode penafsiran.


                Dalam dunia teologi kata “hermeneutik” berarti menunjuk seluruh proses penafsiran yang membawa pembaca modern mengerti akan berita yang disampaikan Alkitab. Hermeneutik tidak hanya ternyata juga bukan hanya ilmu pengetahuan tetapi juga adalah kesenian. Sebagai ilmu pengetahuan hermeneutik menggunakan cara-cara ilmiah dalam mencari arti yang sesungguhnya dari Alkitab, prinsip yang dipergunakan merupakan satu sistem yang masuk akal, dapat diuji dan dipertahankan. Tetapi pada pihak lain sebagai suatu kesenian hermeneutikpun harus menghasilkan sesuatu yang indah, harmonis, bahkan pada kasus tertentu ia menuntut pendekatan yang berbeda dengan pendekatan ilmiah.
                Hal ini  berarti bukan setiap orang yang menghafal peraturan-peraturan hermeneutik, kemudian secara otomatis akan menjadi seorang penafsir yang ulung. Seorang penafsir Alkitab yang baik memerlukan sesuatu seperti rasa seni yang sanggup menyalami perasaan penulis, melihat keindahan bahasa penulis dan merubah karya penafsirannya menjadi sesuatu yang indah dibaca dan didengar.
                Dengan demikian kesimpulannya dari hermeneutik: Suatu bagian teologi yang bersifat ilmiah dan seni, yang memperhatikan hukum tertentu bahkan melibatkan diri penafsir sepenuhnya, dengan tujuan mencari maksud yang disampaikan oleh penulis Alkitab.

Penafsiran: Kebutuhan yang Nyata
                Orang awam sering berkata kepada Pendeta, pengajar atau guru yang berhubungan dengan keprofesionalan bidang Alkitab yaitu “Kita tidak perlu menafsir Alkitab tetapi baca saja dan lakukan”. Menurut mereka Alkitab bukanlah buku yang tidak jelas artinya dan mereka membantah bahwa sesungguhnya orang yang tidak punya kecerdasan otak sekalipun dapat membaca dan memahaminya. Hal ini ada kebenarannya karena terlalu banyak pendeta atau pengkhotbah terlalu banyak menggali sekitarnya sehingga menegruhkan air yang ada. Apa yang sebenarnya jelas waktu dibaca dibuat mereka menjadi tidak jelas.
                Kita jelas percaya bahwa dengan hanya membaca, percaya dan taat seharusnya memang Alkitab tidak menjadi buku yang sulit dipahami kalau dipelajari dengan seksama. Masalah manusia yang terutama bukanlah kesulitan memahami misalnya Filipi 2:14 “Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantah” bukanlah dalam pengertiannya, tetapi dengan hal mentaatinya. Dari sisi yang lain tentu kita menyetujui pandangan kaum awam tadi bahwa seringkali para pengkhotbah dan guru Alkitab terlalu sering cenderung menggali dahulu baru kemudian melihat. Dengan demikian jelas ia menutupi pengertian yang jelas dari teks itu, yang sering justru terdapat di permukaannya.
                Selanjutnya perlu juga dipahami bahwa menafsirkan Alkitab bukanlah bertujuan untuk mencari sesuatu yang unik yang sebelumnya belum pernah dilihat oleh orang manapun. Penafsiran yang bertujuan demikian biasanya dapat dihubungkan dengan kesombongan untuk melebihi kemampuan manusia yang lain. Maksudnya bukan mengatakan bahwa pemahaman yang tepat mengenai suatu ayat Alkitab tidak akan nampak unik bagi seorang yang baru mendengarnya untuk kali pertama. Akan tetapi maksudnya keunikan bukanlah tujuan utama dari sebuah penafsiran.
                Berarti secara sederhana dapat diungkapkan tujuan penafsiran adalah: Menemukan pengertian yang jelas dari teks itu. Dan faktor terpenting yang dapat disediakan untuk tugas itu adalah pikiran sehat yang sudah diterangi Tuhan. Patokan untuk penafsiran yang baik adalah ialah bahwa penafsiran itu membuat teks tersebut dapat dimnegerti dengan baik. Oleh karena itu, penafsiran yang tepat akan melagakan pikiran dan sekaligus menempelak atau menneguhkan hati.
                Namun kalau hanya bertujuan memperjelas arti teks mengapa harus menafsir? Apakah tidak cukup jelas kalau hanya dengan membaca saja? Dalam satu sisi hal ini memang benar, tetapi dalam arti yang tepat alasan itu kurang realaistis karena dua faktor yaitu: Sifat si pembaca dan sifat Firman Tuhan

1. Sifat Pembaca: Sebagai Penafsir
                Mau  atau tidak mau, suka atau tidak seorang pembaca pada waktu yang sama juga adalah seorang penafsir. Untuk alasan inilah diperlukan usaha menafsir ketika seseorang membaca Alkitab. Pada waktu seseorang membaca tentu saja ia mengharapkan memahami apa yang sedang dibacanya. Dengan demikian kita juga cenderung ketika membaca Alkitab kita berfikir bahwa pengertian kita sama dengan maksud Roh atau maksud pengarang mula-mula Alkitab. Namun masalah datang segera karena ternyata kita menghayati suatu teks sesuai dengan keadaan kita, pengalaman kita, budaya kita, gagasan kata-kata yang telah kita miliki sebelumnya. Jelas saja penghayatan yang demikian tanpa disengaja akan menyesatkanatau menyebabkan kita menginterpretasi  bermacam-macam gagasan yang sebenarnya tidak terdapat dalam teks itu.
                Kebanyakan orang Kristen sekarang ketika membaca teks tentang jemaat yang beribadah, secara otomatis membayangkan orang-orang dalam gedung duduk di bangku gereja yang sama seperti milik gereja mereka sendiri. Kata yang lain seperti “keinginan tubuh” bisa langsung diartikan sebagai tubuh yaitu tubuh jasmani, tetapi sebenarnya tubh di sana artinya adalah masalah rohani yaitu tabiat berdosa, dll. Itulah sebabnya, tanpa bermaksud demikian, pembaca sedang menafsirkan sementara ia membaca, dan sayang sekali terlalu sering seseorang menafsirkan secara tidak tepat.
                Sehingga jelas sekarang bahwa bagaimanapun juga pembaca Alkitab sudah terlibat dalam penafsiran. Karena terjemahan Alkitab bahasa apapun sudah merupakan suatu bentuk penafsiran. Apapun terjemahan yang dipakai, yang merupakan titik permulaan bagi diri seseorang, sebenarnya merupakan hasil akhir dari banyak karya ilmiah. Para penerjemah biasanya diminta untuk mengadakan pilihan tentan arti dan pilihan mereka itu akan mempengaruhi pengertian kita. Oleh karena itu, penerjemah yang baik mempertimbangkan masalah perbedaan bahasa kita.
                Perbedaan-perbedaan arti dalam gereja Kristen sekarang ini pun jadi berbeda misalnya ada yang percaya baptisan kanak-kanak tetapi sebagian lain lagi tidak. Sebagian gereja percaya baptisan selam tetapi sebagian lain percaya baptisan percik, sebagian gereja mengizinkan wanita untuk naik mimbar tetapi sebagian lainnya tidak. Masing-masing teks diangkat untuk mendukung pandangan mereka. Bagaimanakah hal ini bisa terjadi?, jelas karena semua pembaca Alkitab pada saat yang sama juga menjadi seorang penafsir. Apa yang gamblang dari teks tidak semuanya gamblang bagi para pembaca.
                Selain perbedaan yang muncul di kalangan Kristen, ternyata perbedaan yang tajam ditunjukkan oleh para bidat yaitu selain patuh pada Alkitab ternyata juga patuh pada kekuasaan /otoritas yang lain. Dalam hal ini mereka membengkokkan kebenaran melalui cara mereka memilih ayat-ayat dari Alkitab sendiri, misalnya Saksi Yehovah yang menyangkal keilahian Kristus, Pembabtisan orang mati oleh Mormon, Penggunaan ular dalam ibadah oleh kelompok Appalachian, menegaskan bahwa ajaran mereka “didukung” oleh ayat Alkitab.
                Dengan adanya keanekaragaman ini, baik di dalam maupun di luar gereja, dan semua perbedaan di antara semua ahli sekalipun, yang seharusnya mengetahui “ketentuan-ketentuan” itu, tidaklah mengherankan jika ada orang yang menganjurkan supaya tidak ada penafsiran, hanyalah membaca. Tetapi sebagaimana yang terlihat, hal itu adalah pilihan yang keliru. Pencegah pada penafsiran yang buruk bukanlah tidak ada penafsiran, melainkan penafsiran yang baik, didasarkan pada pedoman pikiran sehat.

2. Sifat Firman Tuhan: Manusiawi dan Ilahi
                Alasan terpenting untuk kebutuhan menafsir terletak dalam sifat Firman Tuhan itu sendiri yaitu manusiawi dan ilahi. Alkitab adalah Firman Allah yang diberikan di dalam bahasa manusia dalam sejarah. Sifat rangkap inilah yang menuntut kita melakukan penafsiran.
                Karena Alkitab adalah Firman Allah, maka ia selalu relevan, yaitu Alkitab berbicara kepada seluruh umat manusia, dalam segala zaman dan dalam segala kebudayaan. Oleh karena Alkitab itu adalah Firman Allah, maka harus didengarkan dan ditaati. Akan tetapi karena Allah memilih untuk mengucapkan firman-Nya melalui bahasa manusia dalam sejarah, maka setiap buku dalam Alkitab juga memiliki keistimewaan historis. Setiap dokumen dibatasi oleh bahasa, waktu dan kebudayaan di mana dokumen itu pada mulanya ditulis. Penafsiran Alkitab dibutuhkan karena “ketegangan” yang ada di antara relevansi kekekalan dengan keistimewaan historisnya.
                Tentu saja ada orang tertentu yang melihat Alkitab hanyalah sebuah buku karangan manusia saja, dan bagi orang semacam ini penyelidikan Alkitab dibatasi dari sisi historisnya saja. Minat mereka adalah pada gagasan-gagasan agama Yahudi, Yesus atau gereja mula-mula. Itulah sebabnya tugas itu hanyalah tugas historis semata-mata. Sebaliknya ada orang yang berfikir mengenai Alkitab dari sisi relevansi kekekalannya saja, maka mereka cenderung memikirkan hanyalah sekumpulan dasar pikiran yang harus diyakini dan perintah-perintah yang harus ditaati (walalupun mereka memilih dengan teliti diantara berbagai dasar dan perintah itu). Contohnya Ul 22:5 “seorang perempuan janganlah memakai pakaian laki-laki” didesak secara harafiah. Tetapi mengabaikan hal yang lain secara harafiah seperti “jangan menanam dua jenis benih di kebun anggur” (22:9).
                Bagaimanapun juga Alkitab bukanlah serangkaian dasar pikiran dan perintah. Alkitab bukanlah hanya sekumpulan perintah dari Atas dari Pemimpin Agung untuk ditaati sampai detail bahkan titik, koma. Bukan cara demikian Allah berbicara kepada manusia tetapi Ia lebih suka mengutarakan kebenaran-kebenaran-Nya yang kekal di dalam keadaan dan peristiwa khusus dalam sejarah manusia. Ini juga tentunya yang memberikan pengharapan kepada kita. Justru karena Allah memilih untuk berbicara dengan lingkup sejarah manusia yang nyata, kita dapat meyakini bahwa perkataan yang sama ini akan berbicara berulang-ulang dalam sejarah kita sendiri yang “nyata” sebagaimana yang terjadi sepanjang sejarah manusia. Mengingat faktor kedua ini mengapa kita perlu penafsiran?
  1. Ketika berbicara melalui orang-orang yang nyata, dalam berbagai keadaan, selama lebih 1500 tahun, Firman Tuhan diungkapkan dalam pola kosa kata dan pikiran orang-orang itu dan dibatasi oleh kebudayaan pada zaman dan keadaan itu. Artinya firman Allah kepada kiat, pertama-tama adalah firman-Nya kepada mereka. Jika mereka akan mendengarkan firman Allah, itu hanya bisa terjadi melalui peristiwa-peristiwa dan dalam bahasa yang dapat mereka mengerti. Masalah kita adalah bahwa zaman mereka begitu jauh dengan zaman kita, dan kadang-kadang pikiran merekapun sangat jauh dengan pikiran kita.
  2. Segi penting lain dari penafsiran adalah sisi manusiawi Alkitab ialah bahwa untuk menyampaikan firman-Nya kepada semua keadaan manusia. Allah memilih untuk menggunakan hampir setiap macam komunikasi yang ada: cerita sejarah, silsilah keturunan, macam-macam hukum, aneka jenis syair, nubuat, teka-teki, drama, riwayat hidup, perumpamaan, khotbah, wahyu. Untuk menafsirkan dengan benar teks Alkitab “pada waktu itu” kita tidak hanya harus mengakui beberapa kaidah umum yang berlaku untuk semua perkataan Alkitab, tetapi mengerti secara khusus mengapa memakai gaya-gaya itu, sehingga bermanfaat secara benar bagi kita sekarang


II. Pentingnya Hermeneutik

                Hermeneutik adalah ilmu penafsiran, penafsiran dalam hal ini adalah Alkitab. Dengan demikian terlihat pentingnya hermeneutik yang dihubungkan langsung dengan Alkitab. Maka hermeneutik berhubungan erat dengan Alkkitab, sehingga perlu diketahui pentingnya hermeneutik yang berhungan erat dengan Alkitab tadi

1. Firman Allah yang menyelamatkan manusia
                Hermeneutik sebagai upaya dari penafsiran  yang berhubungan dengan Alkitab karena firman Allah yang menyelamatkan manusia. Dalam Roma 10:13-14 dituliskan: “Barangsiapa berseru kepada Tuhan akan diselamatkan, tetapi bagaimana seseorang bisa menyerukan nama Tuhan jika mereka tidak percaya, dan bagaimana bisa percaya jika tidak mendengar tentang Tuhan, dan bagaimana bisa mendengar tentang Dia jika tidak ada yang memberitakan-Nya?
                Maka secara langsung dapat diketahui yaitu pemberitaan firman akan terjadi jika ada penyelidikan terhadap Alkitab terelebih dahulu, dengan demikian dibutuhkan penafsiran atau hermeneutik. Mengapa penafsiran dibutuhkan? Jelas sekali yaitu supaya firman itu dipahami secara benar dan secara tepat. Dengan penafsiran yang tepat maka seseorang akan memahami Allah baik pribadi-Nya maupun karya-Nya.
                Dengan mengenal Allah secara benar melalui pemahaman Alkitab yang benar sudah tentu dimungkinkan seseorang dikaruniai iman yang olehnya dia dapat diselamtakan. Dalam hal ini harga matinya adalah melalui Roh Kudus yang turun kepada seseorang melalui firman Allah datang ke hatinya.Tanpa gerakan Roh Kudus dan firman Allah yang menghasilkan iman keselamatan, manusia yang terhilang selamanya tidak dapat mengenal keadaan diri mereka. Betapa hebatnya malapetakan akibat dosa dan betapa hebatnya akibat kasih karunia hanya dapat dipahami seseorang dengan baik melalui pemahaman yang benar dalam penafisran yang benar pula.

2. Firman Allah sebagai makanan Rohani
                Hermeneutik berhubungan dengan Alkitab dan Alkitab atau firman Allah adalah sebagai makanan Rohani sebagai kenyataannya. Yoh 6:63, 17:17 adalah fakta bahwa setiap pengikut Yesus memerlukan makan rohani untuk menguatkan hidup kerohaniannya. Masalahnya sekarang adalah sering orang mengabaikan kebutuhan rohani dan sangat mementingkan pemenuhan kebutuhan jasmaninya, padahal kesehatan tubuh jasmani sangat tergantung pada makanan jasmaninya dan hal yang sama juga pada kebutuhan rohani seseorang.
                Bukti yang dapat terlihat dari fakta bahwa banyak orany yang kurang memperhatikan kebutuhan rohaninya adalah banyak orang Kristen yang tidak rutin, tekun apalagi dengan teliti menyelidiki firman Allah yaitu Alkitab sebagai upaya penafsiran.Padahal “kesehatan” hidup rohani seorang Kristen berhubungan erat dengan kepentingan orang Kristen. Serbab dengan kerohanian yang makin kuat dan dewasa, pada satu pihak orang Kristen dapat menahan segala serangan, godaan, pukulan dari sijahat dan dunia. Di lain pihak dapat menjalankan perintah dan kehendak Tuhan. Ini sangat penting. Karena orang Kristen tidak hanya ditebus untuk hidup suci atau tidak melakukan hal-hal yang kurang baik, tetapi orang Kristen juga ditetapkan untuk melakukan kehendak Allah, hal-hal yang baik (Yoh 4:34).
                Hanya dengan kerohanian yang sehatlah, kehidupan orang Kristen dapat lebih bermakna dan produktif.


3. Firman Allah: petunjuk Allah untuk hidup Kristen
                 Kehidupan etis sebagai sesuatu yang harus dijalani semua orang baik orang percaya maupun yang tidak percaya. Kehidupan etis ini berarti penuh dengan pilihan-pilihan dalam keputusan-keputusan. Namun terdapat suatu perbedaan antara orang Kristen dan Non Kristen: Orang Kristen dapat memperoleh petunjuk-petunjuk Tuhan melalui firman Allah. Firman Allah menjadi pelita dan terang dalam perjalanan mereka (Mz 119:105). Mencari kehendak Allah adalah hal yang sangat penting, sebab tanpa petunjuk Allah, kita akan sering melakukan kesalahan, mendatangkan kerugian bagi diri kita dan orang lain, dan tidak dapat dapat menjalankan rencana Allah.
                Ini berarti kita tidak dapat memperoleh bahagia, damai sejahtera dan berkat dari Allah. Bahkan ini juga berarti kita menyakiti hati Allah. Sudah tentu tidak seorangpun ingin semua terjadi. Untuk mencegah semuanya ini, orang Kristen harus setia menyelidiki Alkitab.

4. Firman Allah: Senjata rohani orang Kristen
                Dalam kisah “Pencobaan Tuhan Yesus” setelah berpuasa dan lapar (Mat 4:1-13) terlihat suatu kenyataan bahwa iblispun sangat menguasai Alkitab. Tetapi tujuan dari iblis memakai Alkitab adalah hendak menjatuhkan Tuhan Yesus. Hal yang sama juga terjadi dalam hidup orang percaya segala zaman termasuk zaman sekarang ini.
                Si jahat dalam hal ini menjatuhkan orang percaya dengan pelbagai cara, dan salah satu diantaranya adalah dengan menyalahtafsirkan Alkitab. Dengan demikian tidaklah mengherankan, jika pada setiap zaman pengikut Kristus selalu berhadapan dengan begitu banyak pengajaran bidat, yang katanya juga berdasarkan Alkitab. Selain ini seorang Kristenpun diserang oleh iblis dengan pelbagai godaan dan dosa. Ditambah orang Kristen juga harus menghadapi si Aku yang lama dan godaan dari dunia.
                Jadi demi melawan segala serangan iblis, demi membedakan pengajaran yang benar dan salah, demi menolak bermacam godaan, orang Kristen harus berpegang teguh pada firman Allah, senjata rohani mereka (Ibr 4:12, Ef 6:12,17).

5. Firman Allah: Dasar teologi   
                Alkitab tidaklah sistematis, sehingga dibutuhkan usaha mensistematiskan Alkitab segabai dasar iman kepercayaan yang mudah dipahami dan dipertahankan. Hasil dari penyusunan secara sistematik ini adalah teologi. Tetapi perlu digarisbawahi bahwa tidak semua orang Kristen memiliki teologi yang persisi sama. Berdasarkan kebutuhan zaman dan latar belakang yang berbeda , terutama penafsiran yang berlainan, gereja telah menghasilkan teologi-teologi yang berbeda. Dengan demikian orang yang berada di luar dan di dalam gereja gereja, menemui suatu kesulitan besar untuk menentukan mana teologi yang benar atau lebih tepat mana teologi yang berdasarkan firman Allah.
                Dengan kenyataan ini tidak mengherankan pada akhirnya ada pemimpin gereja yang berpendapat bahwa perselisihan dan perbedaan teologi adalah perselisihan dan perdebatan penafsiran Alkitab. Jadi jelaslah jika ingin menjadi seorang Kristen yang baik, mau tidak mau kita harus dengan aktif dan teliti menafsirkan Alkitab. Penafsiran yang tepat terhadap Alkitab menjadi dasar untuk membangun teologi, bukan sebaliknya. Tugas ini akan terlihat makin penting pada saat oknum-oknum tertentu mencoba memutarbalikkan Firman Allah dengan sengaja atau tidak sengaja.


6. Firman Allah: Dasar pengajaran dan khotbah
                Dalam hal ini setiap pekerja Tuhan, bahkan semua orang percaya yang mencintai Tuhan dan pekerjaan-Nya dengan segenap hati, perlu menguasai hermeneutik, karena hermeneutik membantu menafsirkan arti sesungguhnya dari Alkitab. Hal ini memungkinkan pemberian pengajaran yang murni dalam jemaat Allah. Pastilah semua orang percaya setuju bahwa pelayanan dengan penafsiran yang murni ini sangat diperlukan.
                Diharapkan melalui pengajaran sedemikian jemaat dapat maju dalam kebutuahn moral, rohani dan pelayanan. Dan pada suatu hari jemaat akan bertumbuh menjadi bait Allah yang kudus (Ef 2:19-22), tempat manusia bertemu dengan Allah dan juga tempat Allah menyatakan kemuliaan-Nya kepada manusia

7. Firman Allah: Dasar pengharapan Kristen
                Jemaat mula-mula terkenal karena pola hidup mereka yang berbeda dengan perilaku hidup masyarakat secara umum zaman itu. Perbedaan prilaku hidup itu selain mendapat sorotan dengan upaya menyindir ternyata lebih jauh dari itu mereka juga dianiaya baik secara lokal/insidentil sampai secara global/sistematis yang dikoordinasi oleh pemerintah saat itu. Dalam 1Pet 1:6,7 mereka disamakan dengan emas yang diuji oleh api.
                Bukan saja demikian, sama dengan orang lain, orang Kristen juga diancam oleh kesulitan hidup, problema dalam pelayanan bahkan bayang-bayang maut. Jadi bagaimana orang Kristen dapat bertahan dalam penganiayaan? Bagaimana orang Kristen dapat bersyukur menghadapi tantangan dalam pelayanan dan menghadapi maut? Jawabannya sederhana yaitu mereka percaya akan janji dan berkat yang diberikan oleh Allah dalam Alkitab. Sehingga iman kepercayaan ini membangkitkan pengharapan yang tidak akan padam, pengharapan akan kebangkitan yang mulia dan bagian di surga yang tidak dapat binasa (I Pet 1:3-4)

8. Firman Allah: Buku yang paling terkenal
                Alkitab dicetak dalam jumlah yang sangat besar dari tahun ke tahun, dalam berbagai bahasa dan didistribusikan ke hampir setiap pelosok dunia. Tahun 1980 saja Alkitab telah diterjemahkan ke dalam 1668 bahasa, dan dicetak sebanyak 36 juta jilid. Dalam sejarah manusia, Alkitab sudah membuktikan pengaruhnya yang tidak terhitung banyaknya.
                Tetapi kenyataan di samping itu adalah ada banyak juga pihak lain yang tidak senang dengan Alkitab. Mereka sebagian berpandangan bahwa Alkitab itu penuh dengan kumpulan mitos, yang dianggap sebagai penghalang kemajuan manusia itu sendiri. Ada juga yang berpandangan bahwa Alkitab telah dipakai sebagai senjata kolonialis, ada juga yang memandangnya sebagai kumpulan cerita yang tidak praktis, kurang bermnoral dsb.
                Menghadapi dua pandangan yang sangat berbeda ini, adalah merupakan kewajiban setiap orang Kristen untuk berbicara tentang kebenaran. Tetapi perlu tetap diingat tugas ini tidaklah mudah namun harus dilakukan. Untuk meyakinkan mereka yang menganggap Alkitab itu baikdan memeberi penjelasan yang memadai kepada mereka yang menganggap Alkitab itu jelek, orang Kristen sendiri harus terlebih dahulu menguasai isi Alkitab. Disinilah terlihat kepentingan hermeneutik

9. Firman Allah: Kitab yang sulit dimengerti
                Firman Allah adalah perkataan Allah yang sempurna yang disampaikan kepada manusia yang tidak sempurna. Perbedaan ini jelas membuat banyak sekali jurang pemisah yang olehnya terjadi banyak kesulitan pemahaman dari pesan ke pada penerima pesan. Alkitab sulit dimengerti, bukan saja karena ia adalah sebuah kitab suci, tetapi di dalamnya terdapat banyak faktor yang menyebabkan ia memang sulit dimengerti. Contoh sederhana adalah masalah penggunaaan bahasa kuno zaman itu yang harus dipahami oleh bahasa modern zaman kini.
                Selanjutnya pengalaman, kebudayaan, cara berkomunikasi dari pengarang-pengarang Alkitabpun sangat berbeda dengan kita sekarang ini. Pembaca-pembaca Alkitab hari ini, pada dasarnya adalah pihak ketiga, bukan pembaca atau pendengar secara langsung dari penulis Alkitab. Ditambah lagi hari ini kita tidak memiliki naskah-naskah asli yang ditulis oleh pengarang-pengarang Alkitabm, dan jangan lupa jarak antara kitab Wahyu (kitab yang termuda) dengan kita sekarang ini hampir 2000 tahun
                Dengan pertimabangan-pertimbangan ini serta kesulitan-kesulitan yang segera terlihat jelas penafsiran bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. Walaupun demikian orang Kristen tidak perlu merasa kecil hati, sebab jika Allah berkehendak menyampaikan isi hati-Nya melalui Alkitab, maka Allah yang baik itu pasti bersedia menolong mereka yang berusaha dengan sungguh-sungguh karena kecintaan pada sabda-Nya itu.

III. Syarat-Syarat Seorang Penafsir
               
Keyakinan dasar orang Kristen seharusnya adalah bahwa semua orang percaya berhak mambaca dan menafsirkan Alkitab. Namun perlu diperhatikan bahwa seorang penafsir yang baik adalah seorang seorang yang sudah memperoleh persiapan yang memadai. Dengan demikian ada suatu keuntungan lebih dalam hal ini yaitu masalah pendidikan teologi yang cukup baik, sehingga ia dapat membaca dengan lancar bahkan menguasai bebarapa bahasa asing. Bahkan ia juga akan lebih mudah mengerti isi Alkitab jika ia sudah memiliki pengetahuan dasar tentang bahasa-bahasa yang dipakai oleh pengarang-pengarang Alkitab.
                Harus diakui pula untuk mempelajari dan memahami bahasa asli itu tidaklah perkara yang mudah. Namun tidak berarti bagi mereka yang tidak berkesempatan mempelajarai bahasa aslinya tidak dapat mengerti Alkitab. Dan perlu dipahami juga bahwa mereka yang mengerti bahasa aslipun bukan berarti mereka pasti lebih mengerti Alkitab. Yang jelas pengetahuan bahasa asli walaupun hanya dasar-dasar saja sangat menolong upaya penafsiran.
                Selain bahasa, pengetahuan yang lain juga diperlukan dalam penafsiran sepeerti sejarah, adat-istiadat, alam pikiran penulis, geografis, daerah dan zaman Alkitab juga perlu. Secara mental dan intelek seorang penafsir harus adalah seorang yang sehat, dapat berfikir dengan jelas, teratur bahkan sedikit “berfantasi”. Selain itu diharapkan juga ia seorang yang bersikap obyektif, terbuka, jangan membatasi diri pada pandangan teologi belaka.
                Di samping semua itu yang tidak boleh dilupakan adalah pengalaman dan pertumbuhan kerohanian seseorang juga mengambil peranan yang sangat penting. Banyak kebenaran Alkitab yang tidak dapat dijelaskan sekarang, mungkin suatu hari nanti seiring pertambahan pengatahuan dan kerohanian seorang penafsir menjadi lebih jelas dan konkrit. Penafsiran berhubungan erat dengan kesusasteraan, sehingga seorang penafsir yang ideal adalah seorang yang tertarik kepada pengetahuan dasar tentang kesusasteraan.
                Dengan demikian seorang penafsir yang baik adalah seorang yang senang membaca dan sensitif terhadap apa yang ia baca. Selain syarat-syarat ini, masih terdapat yang lain yang perlu dibicarakan secara khusus.

1. Sudah lahir baru
                Tentu saja seorang yang belum lahir baru juga dapat mengerti arti kata-kata Alkitab, tetapi ini tidak berarti ia sudah mengerti Alkitab. Bagi orang yang belum lahir baru segala sesuatu yang bersifat rohani adalah kebodohan karena tidak masuk akal baginya (I Kor 2:14). Penyebabnya jelas karena perhatian utama seorang yang belum lahir baru adalah hal-hal duniawi, kepentingan pribadi dan selalu menghakimi Firman Allah dengan pikiran yang sempit.
                Contoh sederhana dalam hal ini adalah Paulus sebelum diterangi Yesus, ia merasa sudah paham Alkitab dan Yesus Kristus, tetapi barulah setelah lahir baru ia memahami firman Tuhan dalam arti yang sesungguhnya, dan mengenal siapakah sebenarnya Tuhan Yesus. Hal ini tidak berarti pendidikan Paulus tidak penting. Yang dimaksud di sini adalah sebelum lahir baru, mata rohani seseorang belum terbuka untuk melihat kebenaran Allah.

2. Memiliki sikap dan motivasi yang benar
                Kedua kenyataan ini kalau dimiliki oleh seorang penafsir maka ia akan dapat berkat dari padanya, namun sebaliknya terjadi jika motivasi dan sikap yang tidak benar dalam menafsir. Dengan demikian beberapa sikap ini hendaknya dimiliki seorang penafsir antara lain:

a. Rindu firman Allah (Mz 119:103)
                  Jika seseorang mencintai Allah, pasti orang itu mencintai firman-Nya. Kemudian jika penyelidikan firman tidak didasari dengan suatu kerinduan yang sungguh-sungguh terhadap firman, maka pekerjaan itu pastilah membosankan dan tidak mendatangkan berkat. Kerinduan yang sedemikian digambarkan Yesus dalam Mat 5:6 yaitu sebagai orang yang sedang lapar dan haus akan kebenaran. Ini merupakan suatu keinginan naluri yang kuat, yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Jika seseorang datang kepada firman Allah dengan kerinduan demikian, pasti ia akan dipuaskan

b. Sikap seorang murid (Yes 50:4)
                Karena seorang murid adalah seorang yang sedang belajar, maka seorang murid yang baik adalah seorang yang bersedia mengakui kekuranganyya dalam banyak hal terutama dalam firman. Kesediaan mengakui kekurangan inilah yang menyiapkan hati yang bersedia untuk terus belajar dengan rendah hati. Seorang murid dalam hal ini harus bersedia membayar harga dalam penuntutannya menuju kebenaran Allah.
                Seorang murid yang memiliki sikap demikian pasti diberkati Allah. Gambaran seperti ini tampak dalam diri para nabi PL maupun para Rasul di PB yang ketika firman Tuhan datang kepada mereka, mereka tidak menolak atau membantah, tetapi dengan rendah hati menerima firman Allah. Jelas , kadang-kadang firman Allah ini tidak enak diterima dan sulit untuk dijalankan, tetapi sebagai seorang murid dan hamba Tuhan, mereka bersedia berkorban untuknya. Sikap demikian juga hartus dimiliki oleh orang yang ingin belajar Alkitab.

c.Memiliki iman (Ibr 11:6)
Keyakinan mutlak yang harus dimiliki oleh seorang yang ingin menafsir Alkitab adalah bahwa Alkitab adalah firman Tuhan yang tidak bersalah. Walaupn dalam Alkitab terdapat mujizat-mujizat, ayat-ayat yang sulit dimengerti, tetapi bagi orang yang beriman, yang percaya pada kebijaksanaan Allahsemua ini tidaklah menjadi soal. Pembaca Alkitab sebaiknya diingatkan kembali bahwa manusia adalah ciptaan Allah yang berkemampuan terbatas.
Kemampuan seorang manusia akan bertambah dengan bertambahnya pengetahuan dan pengalamannya. Tetapi bagaimanapun juga manusia adalah tetap ciptaan Allah yang terbatas kemampuannya. Jika terdapat orang yang ingin mengandalkan kemampuannya yang sangat terbatas untuk menghakimi firman Tuhan, itu jelas suatu usaha yang pasti akan gagal. Adalah lebih bijaksana bagi pembaca Alkitab bersikap percaya kepada firman Allah, dan menantikan pertolongan dari Allah, yang diberi oleh-Nya pada waktu yang ditentukan, untuk mengerti firman-Nya.

d. Sikap rajin dan teliti (Kis 17:11)
                Seorang awam yang rajin membaca Alkitab dan teliti dalam penyelidikannya mungkin akan lebih mengerti firman Allah daripada seorang teolog yang tidak memperhatikan Alkitab. Dengan demikian dapat dikatakan tidak ada jalan pendek/pintas bagi anak-anak Tuhan. Dalam hal ini harus bersedia meluangkan waktu , mencari tempat yang tenang dan membaca firman  dengan tekun dan teliti. Seorang murid yang malas belajar sudah tentu tidak sanggup mengiktui ujian dengn baik. Seorang pekerja yang malas bekerja tentu tidak akan memperoleh hasil yang menggembirakan. Begitu juga para penafsir Alkitab, jika mereka ingin mengerti firman Allah, sikap yang harus dimiliki oelh mereka adalah tekun dan teliti

e. Memiliki tekad menjalankan firman Allah (Mat 7:24-25; Yak 1:22)
                Tekad untuk menjalankan firman Tuhan adalah sangat penting. Sebab tanpa tekad demikian orang Kristen bagaikan orang yang membangun fondasi rumahnya di atas pasir, tidak sebaliknya orang bijaksana yang melakukan firman yang mendirikan rumahnya di atas batu karang (Mat 7:24-27). Akibat dari ini fatal yaitu sekalipun rumah kelihatan indah dan megah, tetapi jika hujan, badai, angin datang menerpa akan langsung roboh. Tanpa menjalankan firman Tuhan, firman itu merupakan pengetahuan yang abstrak, teori yang tidak berfungsi. Sebaliknya firman Tuhan akan menjadi hidup, berarti, bermanfaat, jika pembacsanya bersedia menjalankannya. Seorang yang bersedia menjalankan firman Allah, ia juga akan diberikan penerangan yang baru dari Allah.
                Hal ini dapat dibuktikan dari banyak pengkhotbah yang walaupun sering berkhotbah tetapi tidak akan kehabisan penerangan dari Allah. Sebab dalam kehidupan sehari-hari, mereka bukan saja menyampaikan kebenaran Allah tetapi juga menjalankannya. Dengan demikian firman Allah bagaikan mata air yang hidup, yang terus mengalir tiada henti.

3. Mohon penerangan dari Roh Kudus (Yoh 16:13)
                Alkitab bukan suatu buku manusia yang biasa, melainkan firman yang diilhamkan oleh Allah. Jadi Roh Kudus adalah Pengarang yang sesungguhnya dari Alkitab, yang bekerja dalam hati penulis-penulis Alkitab. Jadi untuk mengerti firman Tuhan, seorang penafsir harus dengan rendah hati datang kepada Roh Kebenaran dan mohon pertolongan daripada-Nya. Sudah tentu ini bukan pelajaran mudah, sebab orang Kristen sering lebih senang bersandar pada diri sendiri dari pada Roh Kudus. Sehingga kita tidak perlu heran, jika banyak orang Kristen yang menamakan diri mereka bijaksana, justru tidak dapat menerima barkat dan kuasa dari firman Allah

IV. Metode-Metode Penafsiran

Tujuan pokok penafsiran harus diketahui secara jelas oleh orang yang menaruh  minat pada usaha ini. Tujuannya sederhana sekali yaitu menemukan arti yang dimaksudkan oleh sang penulis pada saat dia menulis. Dalam perjalanan waktu ternyata para penafsir sudah mengembangkan beberapa metode yang dipakai dalam upaya ini. Metode-metode tersebut sebetulnya berawal dari berbagai cara pendekatan yang berbeda terhadap penafsiran kitab suci.
                Ketika cara-cara tersebut dikembangkan, cara-cara itu menjadi aneka sistem penafsiran yang luas, dengan masing-masing memiliki perangkat aturannya sendiri. Sebagai metode, masing-masing juga mencakup kelompok prinsip khususnya sendiri-sendiri. Berbagai metode tersebut antara lain:

1. Metode Alegoris
a. Asal mula
Metode ini dimulai dari penyatuan antara agama dan filsafat Yunani. Dengan munculnya filsafat, orang Yunani mulai menyadari bahwa mereka tidak mungkin menafsirkan tulisan-tulisan agama mereka secara harfiah dan tetap berpegang pada filsafat mereka. Jika kedua-duanya diambil secara harfiah, maka keduanya akan bertentangan. Karena kesetiaan baru mereka kepada filsafat, maka untuk membuat agar agama dan filsafat mereka tidak berbenturan mereka harus menyimpulkan bahwa tulisan-tulisan keagamaan mempunyai arti agak lain daripada arti harafiahnya. Metode yang mereka ciptakan untuk maksud tersebut adalah alegorisme.

b. Definisi
Metode ini beranggapan bahwa di balik arti yang jelas dan nyata dari kitab suci terdapat artinya yang sebenarnya. Metode ini yakin bahwa apa yang secara harfiah dikatakan oleh kitab suci hanya merupakan “kulit” luar yang menyembunyikan “hal” rohani yang sesungguhnya dari firman. Dalam membuat alegori, sebuah nas dengan arti harfiah yang jelas ditafsirkan dengan memakai perbandingan pokok demi pokok , yang memunculkan suatu arti rohani yang tersembunyai yang tidak jelas dalam bahasa biasa dari nas tersebut. Contoh: Penafsiran kitab Ayub dikatakan: “Ketiga sahabat Ayub itu merupakan bidat atau orang sesat, ketujuh anaknya adalah ketujuh rasul, ketujuhribu dombanya adalah umat Allah yang setia, dan tiga ribu unta dengan punggung berponok ini adalah bangsa-bangsa non-Yahudi yang bejat akhlaknya” (oleh: Paus Gregory Agung).

c. Evaluasi
Dalam perjalanan waktu terbukti bahwa metode penafsiran ini tidak memadai. Kesalahan metode ini bermula pada asumsi dasarnya yaitu bahwa apa yang difirmankan Allah dengan bahasa yang jelas bukanlah apa yang benar-benar Ia maksudkan. Metode ini berbahaya karena tidak ada batasan alkitabiah untuk memandu pelaksanaannya. Ini pasti mengundang pertentangan dan perdebatan antara penganut metode ini. Melalui metode ini, kitab suci ditafsirkan terlepas dari pengertiannya berdasarkan sejarah dan gramatika. Apa yang disampaikan secara jelas oleh penulis pertama kalinya secara nyaris diabaikan dan yang dikedepankan adalah apa yang penafsir ingin sampaikan.Alegorisme mengaburkan baik unsur harafiah maupun unsur kiasan dalam kitab suci. Dengan mengutamakan maksud penafsir dan mengabaikan maksud penulis pertama kalinya jelas metode ini gagal untuk mencapai tujuan pokok penafsiran.


2. Metode Mistis
a. Asal-usul
Metode ini hampir sama dengan metode alegoris. Asal-usul metode mistis bisa ditelusuri asalnya dari metode eksegesa Hagadis yang dikembangkan oleh orang-orang Yahudi Palestina pada masa intertestamental. Metode ini meliputi baik penafsiran secara alegoris maupun secara mistis atas Perjanjian Lama. Karena terlalu besar keinginan untuk menerapkan kitab suci dalam kehidupan orang-orang, para penafsir salah mengira penerapan itu sebagai penafsiran dan mereka menafsirkan ke dalam arti kitab suci dengan tidak jelas.

b. Definisi
Metode ini beranggapan bahwa di balik kata-kata dan penegrtiannya yang biasa itu tersembunyi aneka ragam arti. Metode ini melangkah lebih jauh daripada metode alegoris dengan membuka pintu bagi banyak ragam penafsiran. Dengan memakai metode ini, suatu nas kitab suci dengan arti harfiah yang jelas dapat ditafsirkan dengan sejumlah arti rohani yang tinggi. Karena mengaku ingin mencapai bukan hanya yang tersurat, tetapi juga yang tersirat atau spirit dari firman, maka fungsi dari metode ini juga disebut “spiritualisasi”. Sebagai contoh penafsiran: “Jangan membunuh” (Kel 20:13), dituliskan: “Waktu memakai tiga pengertian kitab suci pada perintah ini, ia mengatakan bahwa pengertian lahiriahnya adalah bahwa membunuh, membenci dan mendendam dilarang; pengertian rohaniahnya adalah bahwa melakukan kejahatan dan menghancurkan jiwa manusia dilarang; lalu pengertian surgawinya adalah bahwa bagi para malaikat, membenci Tuhan dan firman-Nya adalah sama dengan membunuh.

c. Evaluasi
Metode ini jelas berbahaya dan kurang berguna untuk penafsiran karena dapat menyesatkan. Kesalahan  dalam asumsi pokoknya melebihi kesalahan dari metode alegoris karena metode mistis menganggap kitab suci bisa mempunyai sejumlah arti. Dengan kata lain, waktu menulis kitab suci, Allah mempunyai banyak maksud lain di balik hal-hal yang secara nyata Ia firmankan. Kitab suci dengan demikian dianggap sebagai alat komunikasi yang jelas dari Allah menjadi sebuah teka-teki dan membuatnya mengatakan segala macam hal yang lain daripada hal yang Allah maksudkan. Metode ini tidak menentu dan tidak terikat apapun. Mereka masing-masing menjadi aturan penafsiran bagi diri mereka sendiri. Ddngan mengutamakan maksud-maksud penafsir dan mengabaikan arti yang dimaksudkan oleh sang penulis, metode ini gagal mencapai tujuan pokok dari penafsiran dan harus dibuang.


3. Metode Pengabdian
a. Asal-usul
Berasal dari eksegesa Hagadis zaman intertestimental yaitu dalam usaha menerapkan ayat-ayat Alkitab pada kehidupan mereka, para ahli Taurat Yahudi mulai menafsirkan ayat-ayat itu dari segi situasi kehidupan mereka sendiri. Dalam sejarah gereja, metode ini paling banyak dipraktikkan di antara para orang saleh (pietis) zaman pasca reformasi. Karena itu metode ini juga dikenal sebagai metode penafsiran Pietis.


b. Definisi
Metode ini beranggapan bahwa Alkitab ditulis untuk pembinaan pribadi setiap orang percaya dan bahwa pengertiannya yang tersembunyi untuk setiap pribadi hanya bisa diungkapkan dengan cahaya rohani batiniah yang besar (I Yoh 2:20 sering dipakai sebagai bukti). Metode ini memeriksa Alkitab untuk menemukan arti yang dapat membangun kehidupan rohani. Dalam menafsirkan hal yang paling penting bukanlah apa yang Allah katakan kepada orang lain, melainkan apa yang Allah katakan kepada sang penafsir. Jadi tujuannya mencari di balik arti harafiah yang jelas dari ayat-ayat itu pengertian rohani yang dapat diterapkan kepada kehidupan si orang percaya. Contoh: Ketika menafsir Mat 10:9-11 dengan arti bahwa waktu mereka mengadakan penginjilan mereka tidak boleh membawa perlengkapan materi dan juga tidak perlu membuat persiapan rohani

c. Evaluasi
Sistem dalam metode ini sangat berbahaya bagi penafsiran. Bahaya utamanya adalah ketika berusaha menerapkan Alkitab secara pribadi sang penafsir bisa mengabaikan arti harafiah yang jelas dari apa yang Allah firmankan kepada orang-orang pada situasi sejarah tertentu dahulu, sehingga dia menerapkan Alkitab dengan mengutamakan diri sendiri. Selanjutya bahaya lain adalah penafsiran ini bergantung pada alegorisasi dan tipologi berlebihan dan bisa menggantikan studi Alkitab tentang doktrin dan eksegesa yang justru sangat dibutuhkan. Memang seorang penafsir harus mengetahui bahwa Alkitab dimaksudkan untuk diterapkan secara penuh pengabdian, tetapi bahwa ini hanya bisa dilakukan secara tepat sesudah Alkitab ditafsirkan secara harafiah dan secara historis. Penafsiran pengabdian harus juga diselaraskan dengan penafsiran doktrin


4. Metode Penafsiran Rasionalistis
a. Asal-usul
Dimulai pasca reformasi  yang berpusat di Jerman dengan penekanan penelitian pada sejarah dan sastra dan berusaha mengurangi otoritas Alkitab

b. Definisi
Metode ini beranggapan bahwa alkitab bukan firman Allah yang diilhamkan dengan otoritas. Metode ini menafsirkan Alkitab sebagai dokumen buatan manusia dari segi nalar manusia. Jika Alkitab bisa diselaraskan dengan pengetahuan sang penafsir maka Alkitab harus dipahami sebagai apa yang tertulis di dalamnya, tetapi kalau tidak, Alkitab harus dianggap sebagai mitos atau dongeng, atau digunakan sebagai bantuan. Dengan demikian daya pikir seorang penafsir menjadi ukuran penafsiran, maka hal-hal adikodrati pasti disingkirkan. Contoh: Lazarus disebutkan hanya mengalami koma dan bukan sudah mati, Yesus hanya kelihatan berjalan di atas air dll.

c. Evaluasi
Metode ini lebih tepat disebut sebagai metode orang yang tidak percaya. Walalupun disebut rasional tetapi sebenarnya metode ini paling tidak rasional, karena kebenaran dianggap sebagai mitos belaka. Metode ini jelas meninggikan nalar melebihi otoritas firman Allah. Dengan metode ini seorang penafsir menjadikan dirinya standar kebenaran dan ia hanya melihat manfaat Alkitab untuk membenarkan kesimpulan-kesimpulannya. Metode ini jelas harus ditolak

5. Metode Harafiah
a. Asal-usul
Metode ini paling tua dimulai dari zaman Ezra “Bapak Hermeneutik”

b. Definisi
Metode ini beranggapan bahwa kata-kata dalam Alkitab dalam arti nyatanya yang jelas itu bisa dipercaya, bahwa Allah memaksudkan agar penyataan-Nya dipahami oleh semua orang yang percaya, bahwa kata-kata dalam Alkitab menyampaikan apa yang Allah ingin manusia ketahui, dan bahwa Allah mendasarkan penyampaian kebenaran itu pada berbagai peraturan biasa yang mengatur komunikasi tertulis, oleh karenanya Ia ingin agar kata-kata itu bisa ditafsirkan dengan peraturan-peraturan yang sama. Ini tidak berarti menolak keterlibatan Roh Kudus baik dalam penciptaan maupun dalam penafsiran Alkitab.Ungkapan “arti harafiah” bisa didefinisikan sebagai arti yang biasa dan yang diterima masyarakat yang dibawa oleh perkataan atau ungkapan di dalam konteks tertentunya. Tercakup di dalamnya arti satu kata tertentu yang dimaksudkan oleh penulis dan pembaca pertamanya. Disadari bahwa sebuah kata bisa mempunyai arti berbeda dalam konteks berbeda dan karenanya harus ditafsirkan dari segi penggunaan kontekstualnya. Metode ini berpendapat bahwa walaupun satu kata kemungkinan mempunyai bebarapa arti, dalam setiap pemnggunaan khusus kata itu biasanya akan mempunyai hanya satu arti yang diharapkan.
                Menafsirkan secara harafiah berati menjelaskan arti semula dari si pembicara atau penulis sesuai dengan penggunaan yang normal dan biasa dari kata-kata dan bahasa. Dengan demikian dapat disimpulkan:
  1. Arti harafiah tidak mengesampingkan kiasan.
  2. Metode harfiah tidak mengesampingkan arti rohaniah
  3. Penafsiran harafiah tidak mengesampingkan penerapan
  4. Metode harafiah tidak mengesampingkan kedalaman arti

c. Evaluasi
Metode ini menonjol di antara metode-metode lainnya sebagai satu-satunya cara pendekatan yang pantas, aman dan masuk akal untuk menafsirkan Alkitab. Setiap metode lain terbukti tidak memadai karena metode-metode lain itu kurang mempunyai batas-batas yang ditentukan Allah dan yang dirumuskan dengan baik.


V. Mengenal Alkitab, Terjemahan dan Referensi

Apakah Alkitab Itu?
                Mazmur 19:8 menggambarkan perihal Alkitab  sebagai peraturan dan hikmat Allah. Yakobus menyebut Alkitab sebagai cermin (Yak 1:23-24). Paulus menggambarkan Alkitab sebagai makanan, sebagai susu bagi bayi dan daging bagi orang dewasa rohani (I Kor 3:2-3). Pemazmur menambahkannya sebagai emas yang memperkaya dan madu yang manis (Maz 19:10). Dalam hal ini terlihat dengan jelas beberapa kenyataan tentang pertanyaan apakah Alkitab itu?

  1. Alkitab adalah hakim yang mengoreksi (2 Tim 3:16)
  2. Alkitab adalah pelita dan terang (Maz 119:105). Yesus adalah terang (Yoh 8:12)
  3. Alkitab adalah api yang menghanguskan bagi yang melalaikan kewajibannya (Yer 20:9), bagi yang fasik (Yer 23:25-29)
  4. Alkitab adalah palu yang menghancurkan hati yang keras seperti batu (Yer 23:29)
  5. Alkitab adalah pedang yang memisahkan (Ef 6:17; Ibr 4:12)

Alkitab adalah firman Allah karena alasan sebagai berikut:
  1. Karena isinya mencerdaskan (Maz 32:8-9). Karena dengan Alkitab seseorang dapat diterangi hati dan pikirannya sehingga ia tahu siapa Allah, apa yang dikerjakan-Nya dan apa yang dikatakan-Nya.
  2. Karena isinya menjawab kebutuhan manusia (Maz 19:8-9). Alkitab tidak saja berbicara perihal masalah dan pergumulan manusia, tetapi Alkitab juga berisikan jawaban atas masalah dan kebutuhan manusia. Keajaiban Alkitab justru terletak pada kuasa-Nya dalam menjawab masalah manusia (tubuh, jiwa dan roh)
  3. Karena daya tariknya yang luar biasa (maz 119:77). Alkitab adalah buku yang sangat kuno tetapi tidak pernah usang. Tahun demi tahun, abad demi abad. Alkitab tetap digemari dan isinya selalu relevan dengan situasi yang sedang dihadapi. Dapat dikatakan Alkitab adalah buku kemarin, hari ini dan buku hari esok, dari generasi ke genarasi yang lain. Alkitab meninggalkan kesan yang tak terlupakan dan Alkitab digemari semua orang .
  4. Karena ketepatan ilmiahnya (Kej 1:1-31). Para ilmuwan memperkuat dan membenarkan semua urutan dan kejadian penciptaan bumi selama enam hari seperti yang tertera dalam kitab Kejadian. Bukti-bukti kuat yang ditemukan menopang kejadian-kejadian dalam Alkitab perihal pembagian terang dan gelap, pembagian lapisan udara, pemisahan antara lautan dan daratan dsb. Bagaimana Musa menulis penulis kitab Kejadian dapat mengetahui peristiwa yang tidak dilihat, namun ajaib ini secara tepat? Jawaban yang dapat memuaskan kita adalah bahwa Allah satu-satunya yang memberi petunjuk kepada Musa
  5. Karena nubuatannya digenapi (Daniel 5:24-28).  Banyak sekali nubuatan dalam Alkitab dan nubuatan itu adalah hak sepenuhnya Allah. Tidak seorangpun manusia yang dapat menyingkapkan keadaan hari depan. Kalaupun ada yang mencobanya itu adalah usaha sia-sia. Ternyata lebih dari 25% semua bahan yang terdapat dalam Alkitab adalah nubuatan. Ada bebarapa nubuat yang ditulis 1500 tahun sebelum itu digenapi, yang lain ada yang 700 tahun dan ada juga yang 1000 tahun. Tetapi sebagian besar nubuatan-nubuatan itu telah digenapi dengan sempurna.
  6. Karena terpelihara dari masa ke masa (Yes 40:8). Kalau hari ini kita masih memiliki Alkitab jelas itu adalah mujizat, mengapa? Karena sejarah membuktikan bahwa Alkitab penuh dengan tantangan, perlawanan dan penganiayaan sepanjang abad. Yang mengkritik Alkitab bukan saja orang jahat tetapi Alkitab juga sangat dibenci oleh iblis dan kuasa kejahatan. Kebencian manusia terhadap Alkitab semakin menggila sehingga ada keinginan yang kuat untuk melenyapkan Alkitab, tetapi kenyataannya Alkitab tetap jaya sepanjang masa. Itu berarti ada Allah di balik Alkitab. Alkitab adalah buku di atas segala buku
  7. Karena kuasanya yang mengubah hidup manusia (Maz 19:8-9). Alkitab memiliki kuasa untuk mencapai lapisan yang paling bawah dalam masyarakat perampok, pembunuh, pelacur dan pelaku kejahatan diubah menjadi orang suci, jujur, terhormat
  8. Karena isinya bersifat kristosentris (Yes 53:3). 700 tahun sebelum Mesias datang sudah dinubuatkan oleh Yesaya. Sepertinya nabi ini menyaksikan dengan mata kepala sendiri penyaliban Kristus di atas kayu salib. Ungkapan perihal Yesus bukan hanya di kitab Yesaya ini tetapi juga dari kitab lainnya seperti Kejadian sampai Wahyu. Alkitab ceritakan perihal kehidupan-Nya, pribadi-Nya, perbuatan-Nya, dan nasib-Nya. Bahkan setiap halaman dari Alkitab membicarakan Dia, Ia mempersatukan setiap bahagian Alkitab secara sempurna. Yesus dan Alkitab tidak dapat dipisahkan, karena Ia adalah benar-benar Yesus yang ditulis dalam Alkitab, dan Alkitab selama-lamanya merupakan kitab mengenai Yesus Kristus. Ia adalah firman Allah yang hidup dan Alkitab adalah firman Allah yang tertulis.

Alkitab dan Permasalahan Terjemahan
Mula-mula Alkitab ditulis dalam tiga bahasa yaitu Ibrani kuno, Aram (setengah dalam Daniel dan dua bagian Ezra), dan Yunani. Sebagian besar pembaca Alkitab sekarang ini tidak mengerti bahasa itu, sehingga bagi kita sekarang yang paling diperlukan adalah alat untuk membaca serta mempelajari Alkitab adalah terjemahan Alkitab yang baik dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Membaca Alkitab yang telah diterjemahkan berarti seorang pembaca telah terlibat dalam suatu penafsiran, entah dia mau atau tidak, suka atau tidak karena itu bukanlah hal yang buruk, tetapi  hanya tidak terelakkan.
                Satu hal yang harus diingat ketika seseorang membaca Alkitab terjemahan sebenarnya ia telah berada di bawah “kekuasaan” para penerjemah, dan para penerjemah seringkali mengadakan pemilihan kata tentang apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh teks bahasa Ibrani atau bahasa Yunani asli. Dengan demikian menggunakan hanya satu terjemahan yang baik tentu saja kita berada dalam satu pilihan penafsiran. Dan tentu bisa saja benar tetapi juga bisa saja salah.
                Lalu terjemahan manakah yang harus kita gunakan dalam penafsiran? Dalam hal ini masing-masing orang harus menetukan pilihannya sendiri. Namun pulihan kita jangan hanya karena menyukai terjemahan yang satu atau karena terjemahan ini mudah dibaca. Dengan demikian utuk membuat pilihan yang bijaksana kita perlu mengetahui beberapa hal, baik tentang ilmu penerjemahan itu sendiri maupun tentang beberapa di antara berbagai terjemahan Alkitab dalam bahasa Inggris.


Ilmu Penerjemahan
                Ada dua macam pilihan yang harus dibuat oleh seorang penerjemah yaitu tekstual dan linguistik. Jenis tekstual berkenaan dengan susunan kata-kata yang sebenarnya dari teks asli, yaitu seorang penerjemah memastikan bahwa teks Ibrani atau Yunani sedekat mungkin kepada susunan kata asli yang ditulis oleh tangan-tangan penulisnya. Sedangkan jenis linguistik adalah berkenaan dengan teori penerjemahan seseorang.
                Yang akan kita bahasa berikut ini adalah yang kedua yaitu pertanyaan tentang bahasa (linguistik) dengan asumsi kita sudah memahami jenis tekstual yaitu dengan mengembanagkan metode kritik apparatus.

Pertanyaan tentang bahasa
Persoalan yang muncul adalah berkenaan dengan pemindahan kata dan gagasan dari bahasa yang satu ke bahasa yang lain. Untuk itu kita harus kenali beberapa istilah teknis terkait:
  1. Bahasa asal: Ibrani, Aram dan Yunani (bahasa yang darinya orang menterjemahkan)
  2. Bahasa penerima: Bahasa Indonesia (bahasa yang digunakan untuk menterjemahkan bahasa asal)
  3. Jarak historis: Berhubungan dengan perbedaan yang ada di antara bahasa asal dengan bahasa penerima (kata, tata bahasa, idiom, budaya, sejarah)
  4. Teori penerjemahan: Berhubungan dengan soal sampai ke tingkat manakah kita ingin berusaha untuk menghilangkan perbedaan di antara kedua bahasa tersebut. Mis: haruskan “pelita” diterjemahkan “obor” atau “senter”, di dalam kebudayaan mana benda-benda penerang itu melakukan fungsi pelita dulu? Atau haruskah orang menterjemahkannya tetap “pelita” dan membiarkan pembaca menghilangkan perbedaan itu sendiri?. Kemudian apakah “cium kudus” dapat diterjemahkan “jabatan tangan” dalam kebudayaan di mana mencium di depan umum merupakan perbuatan tidak sopan?

Ada tiga istilah diterapkan pada teori penerjemahan dasar:
  1. Harfiah: usaha untuk menterjemahkan sedapat mungkin menggunakan kata-kata dan penyusunan yang tepat sama dengan yang digunakan dalam bahasa asal, namun masih mempunyai arti dalam bahasa penerima. Terjemahan harafiah akan menjaga keutuhan jarak historis dalam segala segi. Contoh terjemahan ini adalah KJV, NASB, sebagian RSV
  2. Bebas: usaha untuk menterjemahkan gagasan-gagasan dari satu bahasa ke bahasa yang lain, dengan kurang memperhatikan pemakaian kata-kata yang tepat dari bahasa asal, coba menghilangkan sebanyak mungkin jarak historisnya. Contoh terjemahan ini adalah PHILIPS, LB
  3. Kesesuaian Dinamis: usaha untuk menterjemahkan berbagai kata, idiom dan susunan tata bahasa dari bahasa asal ke dalam padanan yang tepat dalam bahasa penerima. Terjemahan ini menjaga jarak historis dalam semua hal yang berhubungan dengan sejarah dan dalam kebanyakan hal yang berdasarkan fakta, tetapi “memodernkan” soal-soal bahasa, tata bahasa dan gaya bahasa. Contoh terjemahan ini adalah NIV, NAB, GNB, JB, NEB.
Teori penerjemahan terbaik adalah Kesesuaian Dinamis. Terjemahan harafiah sering bermanfaat sebagai sumber kedua yang memberi keyakinan mengenai bagaimana sebenarnya rupa naskah Yunani dan Ibrani. Terjemahan bebas juga bermanfaat untuk merangsang pemikiran tentang kemungkinan arti suatu teks. Maka NIV adalah terjemahan dasar untuk belajar yang baik.

Cara berbagai terjemahan menangani persoalan “jarak historis”

1. Kata “bobot”, “ukuran”, “uang”.
Apakah kita menyalin huruf-huruf berbagai istilah Yunani dan Ibrani (“ephah”, “homer” dsb), atau kita coba menemukan padanannya dalam bahasa Inggris atau Indonesia? Jika kita putuskan untuk mencari padanan dalam berat dan ukuran, apakah kita gunakan standar “pounds” dan “feet” untuk bahasa Inggris atau kita melihat ke masa depan dan meneterjemahkannya “liter” dan “meter”? Dalam beberap tahun saja inflasi dapat mempermainkan padanan moneter. Persoalannya diperparah dengan fakta bahwa ukuran dan uang sering dipakai untuk menyarankan pertentangan atau hasil-hasil yang mengejutkan, seperti Mat 18:24-28, Yes 5:10. Untuk menyalinnya saja dalam hal ini kemungkinan menyebabkan pembaca Inggris/Indonesia tidak mengerti maksud ayat-ayat itu. 
                Lihat perbandingan beberapa terjemahan untuk menterjemahkan kata itu:
    1. KJV diikuti RSV tidak konsekuen dalam hal ini. Sebagian terbesarnya menyalin huruf-huruf dari abjad bahasa asal, dan hal ini juga terdapat dalam Alkitab Indonesia Terjemahan Baru sehingga kita temukan kata-kata “bat”, “efa”, “homer”, “syikal”, dan “talenta”. Namun kata Ibrani “ammah” diterjemahkan “hasta”, “zereth” menjadi “jengkal” danb kata Yunani “mna” (mina) di salin ke bahasa Indonesia menjadi “uang mina” sedangkan kata “denarius” menjadi “dinar”
    2. Terjemahan NASB menggunakan kata “cubit” (hasta) dan “span” (jengkal). Cara ini juga dipakai oleh NIV, kecuali untuk “cubits” yang diubah menjadi “feet” (kaki) dan semua catatn pinggir diberikan baik dalam standar Inggris maupun dalam padanan metrik.
    3. Alkitab Living Bible, sebagaimana dapat diharapkan mengubah segala sesuatu menjadi padan kata, tetapi sering mereka tidak teliti. Mengubah dinar menjadi dollar dengan kurs tahun 1960 paling banter adalah suatu produk yang sulit.
       Coba bandingkan betapa jauhnya terjemahan yang diberikan oleh BIS dengan Terjemahan Baru untuk Yes 5:10 dan Mat 18:24-28

2. Eufeminisme (ungkapan pelembut)
                Penggunaan kata yang berhubungan dengan toilet dan seks diungkapkan secara lembut. Ada tiga pilhan untuk itu:
  1. menerjemahkan secara harfiah, tetapi mungkin pembaca yang berbicara bahasa Inggris/Indonesia itu akan menerka-nerka artinya
  2. menerjemahkan padan-kata yang harfiah, tetapi mungkin menyingggung perasaan atau mengejutkan pembaca
  3. menerjemahkan dengan suatu padanan ungkapan pelembut.
Diantara ketiga itu barangkali yang terbaik adalah pilihan yang ketiga, jikalu ada eufeminisme yang sesuai. Jikalu tidak, lebih baik mengikuti pilihan kedua khususnya untuk perkara-perjkara yang pada umumnya tidak lagi menuntut eufeminisme dalam bahasa Indonesia.
                Contoh kata “aku sedang haid” (Kej 31:35, ATB,NIV) adalah lebih baik dibandingkan terjemahan harfiah “adat perempuan sedang berlaku atas hamba” (NASB,KJV)

Pilihan sutau Terjemahan
                 Kalau demikian, terjemahan mana yang harus kita baca? Yang pertama NIV sebagai terjemahan yang amat baik. GNB (BIS/KABAR BAIK) dan NAB juga baik sekali. Sebaiknya gunakan dua dari terjemahan tersebut atau ketiganya di samping Alkitab LAI yang biasa kita pakai.

Sejarah Singkat Hermeneutik

Pentingnya mengetahui sejarah hermeneutik adalah untuk menunjukkan asal-usul , kemajuan dan perkembangan prinsip-prinsip hermeneutik. Di samping itu sejarah menunjukkan tekanan apa, baik dari luar maupun dari dalam yang harus dihadapi oleh seorang penafsir ayat-ayat Alkitab. Orang bisa melihat pada penelitian yang dilakukan oleh umat Allah selama berabad-abad untuk menemukan apa sebenarnya yang Allah maksudkan dengan firman yang Ia sampaikan. Hal ini dapat menjadi suatu perlindungan yang berharga dan juga dapat sebagai pedoman untuk menolong seorang penafsir menghindari berbagai masalah yang dihadapi oleh penafsir-penafsir terdahulu. Semakin seseorang mengerti penafsiran yang tepat semakin ia memenuhi syarat untuk menangani firman Allah sebagai seorang penafsir komunikasi dari Tuhan itu.
                Manusia pada dasarnya telah menjadi bodoh secara mental dan spiritual sejak jatuh dalam dosa  (Yer 5:21, Luk 24:45). Dosa memutuskan hubungan Allah dengan manusia, sehingga terjadi miskomunikasi. Dalam hal ini Allah mengambil inisiatif untuk menjembatani komunikasi tersebut dengan cara memberikan firtman-Nya. Pesan itu harus ditafsirkan oleh manusia. Sejarah hermeneutik memperlihatkan kepada kita usaha manusia untuk menerima komunikasi dari Tuhan.

I. Hermeneutik Yahudi
a. Periode (457 SM- sampai sekarang).
Periode ini membentang dari zaman Ezra sampai sekarang ini, yang disebabkan oleh fakta bahwa bangsa itu secara keseluruhan menolak Mesias mereka dan karenanya hermeneutik Yahudi harus dibedakan dengan hermeneutik Kristen
b. Metode.
Dalam hermeneutik ini yang dominan adalah metode harafiah dan metode alegoris. Pada beberapa abad terakhir, agama Yahudi modern menekankan metote rasionalistis dalam penafsiran.
c. Sejarah
1. Ezra dikenal sebagai bapak hermeneutik, karena ia dianggap adalah yang pertama dari penafsir Yahudi terkemuka dan pendiri penafsiran harafiah Palestina. Orang Yahudi yang ada di pembuangan harus berpaling kepada tulisan-tulisan suci untuk memperoleh penghiburan dan kekuatan mengingat bait suci sudah dihancurkan. Saat itu Taurat dan kitab para nabi menonjol di kalangan mereka. Ketika mereka kembali ke Yerusalem ternyata bahasa yang diketahui mereka adalah bahasa Aram bukan Ibrani, sehingga Alkitab harus kembali menterjemahkan  dan menafsirkan kitab tersebut (Neh 8:1-8). Dalam usaha inilah Ezra dan orang-orang Lewi terlibat pemberitaan firman berdasarkan terjemahan Alkitab yang merupakan tafsiran serta eksposisi formal atas firman Allah oleh orang Yahudi. Dalam hal ini Ezra menggunakan metode harafiah dalam tafsiran Taurat seperti bidang perkawinan campuran, ketaatan perayaan hari raya, serta puasa secara harafiah.
2. Sinagoge. Tempat ini sebagai tempat berkumpulnya orang Yahudi untuk beribadah dan belajar agama. Sinagoge berasal dari masa pembuangan Babel, karena mereka sudah tidak punya bait suci dan mereka rindu berkumpul dan membaca ayat-ayat Alkitab. Melalui kebaktian-kebaktian inilah Hukum Taurat tetap hidup dalam hati bangsa itu. Sinagoge Agung zaman Ezra menetapkan bebarapa perayaan pasca Musa yang mengatur upacara di Sinagoge, termasuk pembacaan serta eksposisi ayat-ayat Alkitab secara sistematis. Karena kebutuhan akan pengajaran maka orang Yahudi menetapkan sinagoge-sinagoge setempat di berbagai kota, yang berfungsi di bawah Sanhedrin  (Mrk 5:22, Luk 4:20).
3. Ahli- ahli Taurat. Ahli Taurat mula-mula adalah pejabat militer. Mereka adalah penyalin dan petugas yang sah untuk memberikan penjelasan rinci tentang ayat-ayat Alkitab. Pada zaman Kristus mereka telah terkenal sebagai ahli Taurat. Penafsiran dan penjelasan mereka diakui secara resmi atas hukum taurat. (Mat 22:35)

4. Berbagai aliran penafsiran
4.a. Kaum Yahudi Palestina. Pimpinannya adalah Ezra, orang Yahudi menerima sepenuhnya bahwa firman Allah itu diilhamkan dan memiliki otoritas . Tujuan terbesar mereka adalah menafsirkan hukum Taurat. Sementara mereka berusaha melindungi isi dari hukum itu, ternyata mereka juga mengumpulkan sejumlah tradisi yang mereka tempatkan di samping hukum tersebut. Tradisi ini timbul dari keinginan mereka untuk menerapkan hukum Taurat dalam berbagai keadaan hidup mereka yang terus-menerus berubah. Terkenallsah istilah hukum lisan dan menjadi hukum tertulis dengan otoritasnya yang diakui . Untuk itulah Kristus menegur mereka sebab tradisi-tradisi lisan membuat “firman Allah tidak berlaku” (Mrk 7:13). Pada abad 2 dibuat himpunan tertulis dari semua hukum lidsan yang ada yang terkenal dengan sebutan Misynah yang artinya “ajaran lisan dan penelaahannya”. Dan untuk mengakui otoritasnya diciptakan Yahudi tradisi palsu yang mengatakan bahwa hukum tersebut diterima oleh Musa di gunung sinai. Dalam Misynah terdapat dua jenis penafsiran yaitu:
-Halakah: Membahas peraturan-peraturan hukum itu. Tujuannya untuk mengurangi berbagai peraturan dari Taurat
-Hagadah: Dipakai terutama membahas bagian-bagian non hukum dari Alkitab, seperti sejarah, nubuat dan puisi. Tujuannya supaya mendorong orang Israelk hidup saleh
4b. Kaum Yahudi Aleksandria.  
 Ketika koloni Yahudi di Alexandria dipengaruhi helenisme maka mereka mengembangkan suatu sistem hermeneutik yang berbeda dengan yang dikembangkan oleh kaum Yahudi di Palestina. Keterkaitan Kaum ini dengan penafsiran Palestina adalah mereka sama-sama menerima prinsip hagadah, yaitu sama-sama menerima apokrif dan Septuaginta. Ketika orang Ibrani dipenuhi kebudayaan Yunani akhirnya cocok jika Alkitab Ibrani diterjemahkan ke bahasa Yunani. Disinilah tugas itu dilakukan yaitu kebebasan Hagadah dengan menambahkan filsafat, fiksi dan legenda ke dalam Alkitab.
4c. Kaum Karaites
Suatu sekte Yahudi yang ditemukan tahun 800 M oleh Anan ben David. Mereka dianggap kaum “protestan” agama Yahudi. Mereka menolak otoritas hukum lisan dan metode mengajar eksegesaHagadah. Kaum ini penganut sistem harafiah: dimana mereka menerima sebagai dasar cara penerjemahan teks Alkitab secara secara harafiah, kecuali jika berdasarkan sifat kalimatnya hal ini tidak mungkin.
4d. Kaum Cabalist:
Gerakan abad 12 ini mengembangkan sistem pementingan apa yang tertulis dan alegorisme melalui senam eksegesis, sebetulnya suatu aliran yang sangat harafiah.
4e. Kaum Yahudi Spanyol
Di Spanyol abad 12-15 mengembangkan suatu metode penafsiran yang lebih sehat. Pendapat penganjur sistem ini adalah “jika penafsiran yang jelas tentang suatu nas tidak bertentangan dengan nalar untuk apa kita harus mencari penafsiran yang lain?”.
Sebagai imbangan, ia mengakui bahwa ada beberapa kalimat yang berisi arti harafiah dan juga arti simbolis.
4f. Kaum Yahudi Prancis
Metodenya adalah memberikan penjelasan harafiah atas teks Alkitab bahasa Ibrani. Akan tetapi penghargaannya kepada Talmud membuat dia menggabungkan eksegesa Hagadah dengan metode harafiah
4g. Kaum Yahudi modern
Kecenderungan kaum ini adalah pada rasionalisme. Dalam memberi eksposisi tentang ayat-ayat alkitab, mereka mengacu pada nalar dan hati nurani. Mereka menolak penyataan Allah dalam Kristus, tidak menantikan adanya Mesias, atau pemulihan Musa.

II. Hermeneutik Rasuli
A. Periode: (26-95 M): Mulai dari pelayanan Kristus smapai kematian Yohanes
B. Metode: Yang berlaku adalah metode harafiah. Dengan ilham Roh Kudus, para penulis Perjanjian Baru secara tidak mungkin salah menafsirkan Perjanjian Lama dalam tulisan mereka.
C. Sejarah:
1. Yesus Sang Penafsir sempurna: Karena Ia adalah firman yang hidup, maka Ia bisa tanpa salah menafsirkan firman tertulis itu. Pribadi-Nya adalah wujud dari penafsiran atas Perjanjian Lama (Yoh 5:39). Ia membuka pengertian kepada murid-murid-Nya. Pada masa pelayanan-Nya Ia menafsirkan ayat-ayat Alkitab bagi para murid-Nya, yaitu berbagai hal tentang diri-Nya. Karena murninya penafsiran Yesus, Ia mampu menyingkapkan semua penafsiran yang tidak benar. Ia mengutuk tradisi Hagadah dan Halakah yang dipergunakan oleh para tua-tua karena tradisi itu membuat firman Allah tidak berlaku (Mat 15: 1-9). Ia mencela para Farisi dan ahli Taurat yakni para penafsir resmi hukum Taurat, karena penafsiran mereka yang bersifat terlalu mementingkan pelaksanaan hukum (legalistis) atas ayat-ayat Alkitab, yang membuat orang-orang sama sekali terbelenggu (Mat 23:1-33). Bahkan karena kesalahan hermeneutik inilah yang membuat pada akhirnya mereka menyalibkan Sang Mesias sendiri yang kedatangannya sudah diberitakan terlebih dahulu dalam Alkitab mereka (Kis 13:27).
                Adapun prinsip yang digunakan Yesus dalam penafsiran antara lain:
a. Prinsip konteks (Mat 22:41-46)
b. Prinsip penyabutan pertama (Mat 19:3-9)
c. Prinsip pemilihan (Mat 12:15-21)
d. Prinsip perjanjian (Mat 12:1-4)
e. Prinsip pembagian etnis (Mat 10:5,6)
f. Prinsip kronometris (pegukuran waktu secara tepat) (Luk 21:20-24)
g. Prinsip moral (Mat 24:36-39)
h. Prinsip simbolis (Mat 21:42-44)
i. Prinsip perumpamaan (Mat 13:1-9)
j. Prinsip tanda khas (Luk 11:29)

2. Para Rasul, para penafsir yang diilhami: Tuhan Yesus mencurahkan Roh-Nya ke atasa para rasul-Nya. Mereka penafsir yang tidak mungkin salah karena pemahaman mereka karena pencerahan dari Roh Kudus (Luk 22:27). Mereka menolak penafsiran alegoris sebagaimana dilakukan penafsiran Aleksandria. Paulus menganggap semua itu menolak pengetahuan mengenai Allah dalam Kristus (Kol 2:8). Prinsip yang digunakan para rasul dalam menafsirkan antara lain :
a. Prinsip konteks (I Pet 2:4-10)
b. Prinsip penyebutan pertama (Ibr 6:20)
c. Prinsip penyebutan pokok secara komparatif (Rm 3:1-20)
d. Prinsip penyebutan pokok secara progresif (Ibr 10:37)
e. Prinsip pemilihan (Rm 9:6-13)
f. Prinsip perjanjian (Ibr 8-10)
g. Prinsip pembagian etnis (Gal 3:1-29)
h. Prinsip kronometris (II Pet 3:1-13)
i. Prinsip kristosentris (Ibr 10:1-14)
j. Prinsip moral (I Kor 9:9-12)
k. Prinsip simbolis (I Pet 2:4-8)
l. Prinsip tanda khas (I Kor 10:1-11)
m. Prinsip alegoris (Gal 4:21-31)

III. Hermeneutik para bapak gereja (Patristik)
A. Periode: Dimulai sejak akhir periode rasuli Perjanjian Baru sampai abad pertengahan
B. Metode-metode: Seringkali yang digunakan adalah campuran antara metode harafiah dengan metode alegoris, tetapi yang paling dominan adalah alegoris.
C. Sejarah:
1. Tahun 202 dari Klemens sampai Irenius. Pada umumnya mereka terlalu sibuk mempertahankan doktrin Kristologi terhadap ajaran sesat sehingga tidak ada perkembangan yang berarti dalam metode penafsiran Alkitab.
2. Tahun 202-325 Sekolah Aleksandria. Pada abad ke 3 ini penafsiran sangat dipengaruhi oleh sekolah katekisasi Aleksandria yang menjadi tempat bercampurnya filsafat Yunani dengan Yudaisme. Tujuannya adalah menyelaraskan agama dengan filsafat Yunani melalui penggunaan metode alegoris
3. 325-600 Sekolah Antiokhia: Pada sekitar abad 4 sebuah sekolah didirikan di Antiokhia di mana orang percaya pertama kali disebut Kristen disini. Sekolah ini menetang pelajaran eksegesa alegoris dari sekolah Aleksandria. Metode yang mereka pakai dalam menafsirkan ayat-ayat Alkitab lebih terhormat, lebih ilmiah dan menguntungkan. Kesimpulan hermeneutik mereka adalah:
a. Mengakui Alkitab sebagai suatu penyataan progresif
b. Percaya pada kesatuan Alkitab karena penekanan kristologinya
c. Menghindari pementingan apa yang tertulis (letterism)
d. Menentang alegorisme Aleksandria
e. Menekankan egsegesa harafiah dan historis
f. Menggantikan alegori dengan tipologi
g. Menghindari eksegesa dogmatis
                Dengan menghindari penafsiran alegoris dan mengikuti eksegesa harafiah berarti memberikan arah yang benar untuk proses hermeneutik.
Waktu merangkum periode hermeneutik Patristik (hermeneutik bapak gereja), jelas telah berkembang dua aliran nutama yaitu sekolah Antiokhia dan Aleksandria. Aliran yang pertama ditandai oleh penafsiran harafiah, yang berawal dari Ezra, diselewengkan oleh kaum Yahudi Palestina, diperbaiki oleh Yesus dan para rasul, lalu diproklamirkan di sekolah Antiokhia. Aliran yang kedua ditandai oleh penafsiran alegoris yang diawali dengan munculnya para filsuf Yunani, dipinjam oleh kaum Yahudi dan diteruskan oleh kaum Yahudi di sekolah Aleksandria.

IV. Hermeneutik Abad Pertengahan
A. Periode: 600-1517 dimulai permulaan abad 7 sampai Martin Luther
B. Metode: Ada 4 metode yang dipakai selama periode ini yaitu:
- Arti Harafiah: arti nyata yang jelas
- Arti Alegoris: arti teologis yang tersembunyi
- Arti Moral: arti praktis yang tersembunyi
- Arti Eskatologis: arti menyangkut masa yang akan datang
Namun jelas sekali yang paling dominan pada periode ini adalah alegoris
C. Sejarah.
                Selama abad i ni terdapat stagnasi dalam bidang hermeneutik dan tidak ada prinsip-prinsip penafsiran baru yang dirumuskan. Karena penekanan-penekanan yang berlebihan pada tradisi maka tulisan-tulisan pada periode ini cenderung hanya merupakan pengulangan dari ajaran-ajaran bapak gereja mula-mula. Ini menunjukkan adanya keadaan terbelenggu pada otoritas dan tardisi gereja.
                Dalam masa ini ketidaktahuan dan ketakhyulan merupakan hal yang umum. Umumnya para pemimpin rohani dan awam tidak memiliki pengetahuan tentang ayat-ayat Alkitab, karena disimpan di biara-biara dan akhirnya dihormati secara takhayul. Alkitab dipandang sebagai suatu benda misteri dan hanya pakar gereja yang dianggap mampu untuk menyingkapkan pengertian mistisnya. Ketidaktahuan ini menyebabkan sebagian orang melihat takhyul pada ayat-ayat Alkitab sebagai ramalan gaib untuk dijadikan pedoman pribadi.

V. Hermeneutik Reformasi
A. Periode: 1517-1600 dimulai dari publikasi 95 dalil Martin Luther sampai akhir abad 16.
B. Metode: Secara bertahap mulai lepas dari metode rangkap empat dari abad Pertengahan. Alegoris mulai ditinggalkan dan metode harafiah-gramatikal yang digunakan
C. Sejarah
                Zaman Renaissance di Eropa membuat gereja terlepas dari takhyul periode Abad Pertengahan. Ketika dicetuskan Sola Scriptura (hanya berdasarkan Alkitab saja) terbukalah suatu babak baru dalam penafsiran Alkitab. Ketika Alkitab diakui sebagai satu-satunya penyataan ilahi yang tidak mungkin salah yang tersedia bagi manusia. Alkitab ditinggikan di atas semua nalar manusia, termasuk kekuasaan gerejawi yang bisa salah. Karena alasan ini maka Alkitab banyak diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia selama abad 16. 
                Sekalipun banyak penggerak reformasi yang hebat, ada dua orang teladan yang menonjol: Luther dan Calvin:
1. Martin Luther: Hermeneutik Luther dapat diringkas sbb:
a. Prinsip psikologi. Ilham memerrlukan pencerahan, sehingga harus bergantung pada Roh Kudus untuk hidupkan kemampuan mental yang diberikan Allah kepadanya
b. Prinsip otoritas. Alkitab di atas segala persoalan teologi dan otoritas gereja
c. Prinsip harafiah. Alegoris tidak sah, bahasa asli dan historitas serta gramatika diperhatikan
d. Prinsip cukup. Alkitab jelas dan setiap orang percaya dapat menafsirkannya
e. Prinsip tarurat-Injil. Taurat diberi untuki menjatuhkan hukuman sedang Injil untuk menebusnya
f. Prinsip kristologi. Fungsi utama penafsiran adalah untuk menjumpai Kristus

2. John Calvin: Calvin adalah penafsir ilmiah pertama dalam sejarah gereja Kristen. Ia mempertahankan prinsip-prinsip dasar Luther, tetapi ia mengungguli Luther dalam penggunaan prinsip-prinsip tersebut. Ia menganggap metode alegoris sebagai metode iblis, tetapi ia mengakui keabsahan tipoligi Perjanjian Lama.

VI. Hermeneutik Pasca Reformasi
A. Periode: 1600-1800 dimulai dari permulaan abad 17 sampai akhir abad 18
B. Metode: Sebagian besar menganut dan mengembangkan hermeneutik Reformasi, yaitu metode harafiah. Juga pada periode ini metode pengabdian dalam penafsiran menjadi paling utama.
C. Sejarah
1. Dogmatisme: Sebagai suatu masa kontroversi dan dogmatisme teologi, periode pasca Reformasi ada sebagai suatu era yang suram dalam sejarah gereja. Cahaya reformasi dibayangi oleh suasana pertikaian dan kepahitan diantar para teolog. Sementara menolak otoritas gereja katolik, mereka masuk dalam belenggu standar-standar pengakuan iman dari gereja Protestan

2. Pietisme: Pietisme muncul sebagai reaksi terhadap dogmatisme teologis dari masa pasca reformasi. Dogmatisme Prostestan memakai Alkitab sebagai pedang yang tanpa belas kasihan sehingga menghancurkan kehidupan rohani. Para penganut pietisme memasukkan pedang itu pada mata bajak, dengan keinginan untuk memakianya dalam menghasilkan kehidupan. Mereka mempelajari Alkitab untuk pembangunan pribadi serta makanan rohani. Prinsip penafsirannya adalah:
a. Alkitab dipelajari dalam bahasa aslinya
b. Latar belakkng kitab dipelajari sungguh-sungguh
c. Roh Kudus yang mencerahkan sebuah pemahaman
d. Alkitab dipelajari dengan penuh pengabdian dan diterapkan secara praktis

3. Metode Penelitian: Karena melihat kelemahan serta tidak memadainya metode pengabdian, banyak penafsir beralih pada pendekatan skolastik terhadap studi Alkitab. Dengan menganggap cara penganut dogmatisme yang mengabaikan latar belakang sejarah Alkitab untuk menemukan ayat-ayat buktinya itu sebagai tidak memadai, maka banyak pakar mempelajari ayat-ayat Alkitab secara analitis. Untuk pertama kalinya berbagai naskah diperbandingkan dan dinilai. Riset yang luas atas bahasa-bahasa asli menghasilkan berbagai tata bahasa.

4. Rasionalisme: Dengan mengikuti metode penelitian, banyak pakar melangkah melampaui cara pendekatan skolastik dan meninggikan nalar manusia melebihi otoritas ayat-ayat Alkitab 

VII. Hermeneutik Modern
A. Periode 1800- sekarang.
B. Metode. Metode paling menonjol adalah metode harafiah.
C. Sejarah: Dari sisi negatif rasionalistis telah menurunkan kewibawaan Alkitab, namun dari sisi positif banyak penafsir terkemuka berduyun-duyun membela Alkitab dan membuat otoritas Alkitab berkembang secara penuh




II. Perumpamaan

Perumpamaa-perumpamaan Yesus dalam Perjanjian baru adalah cerita yang menarik dan sederhana, tetapi cerita perumpamaan ini telah sering disalahtafsirkan dalam gereja. Alasannya sesuai dengan perkataan Yesus dalam Markus 4:10-12, bahwa maksud Yesus dalam perumpamaan yang diketengahkan-Nya mengandung rahasia bagi orang-orang kalangan dalam, sedangkan mengeraskan hati orang-orang kalangan luar.
                      
Memfungsikan Perumpamaan
                Petunjuk-petunjuk terbaik mengenai apa perumpamaan itu terdapat pada fungsinya. Perumpamaan-perumpamaan cerita bukan untuk menghiasi ajaran Yesus yang tidak mengkhayal-khayal itu dengan kata-kata kiasan. Sebaliknya perumpamaan-perumpamaan cerita berfungsi sebagai sarana untuk membangkitkan tanggapan dari pihak pendengar. Perumpamaan itu sendiri adalah suatu pesan. Perumpamaan itu diceritakan untuk berbicara kepada pendengar serta memikat perhatian para pendengar, agar mereka berhenti melakukan perbuatan mereka, atau menjadi penyebab agar mereka menanggapi Yesus dan pelayanan-Nya.
                Sifat “mengharapkan tanggapan” dari perumpamaan inilah yang menyebabkan masalah besar bagi kita untuk menafsirkannya. Karena dalam beberapa hal, menafsirkan suatu perumpamaan dapat merusak bentuknya yang asli. Hal itu sama seperti menafsirkan suatu lelucon. Tujuan suatu lelucon dan apa yang menyebabkannya lucu ialah bahwa si pendengar langsung mengerti lelucon itu sementara lelucon itu diceritakan. Lelucon itu lucu karena si pendengar terjebak di dalam cerita itu dan ia mengerti pokok-pokok acuanya. Tetapi jika lelucon itu ditafsirkan kembali jelas tidak lucu lagi karena sipendengar tidak terjebak dalam cerita itu. Pengaruh lelucon yang diceritakan langsung dengan yang ditafsirkan tidaklah sama kuatnya. Demikian pula halnya dengan perumpamaan. Perumpamaan itu diucapkan dan kita dapat menganggap bahwa kebanyakan pendengar langsung mengerti sehingga menyebabkan mereka menangkap maksudnya atau terjebak olehnya.
                Jadi tugas hermeneutik kita sehubungan dengan perumpamaan-perumpamaan ini adalah bagaimana menangkap kembali “ketajaman maksud ”perumpamaan-perumpamaan” dalam masa kita dan dalam lingkungan kita sendiri.

Penafsiran Perumpamaan:
Ada bebarapa unsur terkait yang perlu diperhatikan:
1. Temukan pokok-pokok acuan
                     Hal yang mengundang gelak tawa terhadap suatu lelucon adalah ketika pendengar mengerti pokok-pokok acuan yang saling terkait satu dengan yang lainnya dan perubahan yang tidak terduga dalam cerita tersebut. Jadi kunci untuk mengerti adalah pokok-pokok acuan, yaitu berbagai bagian dalam cerita yang dengannya kita dapat menyatukan diri kita sewaktu cerita itu diceritakan. Jika kita tidak mengenali pokok-pokok acuan dalam suatu perumpamaan, maka kekuatan dan maksud perkataan Yesus juga tidak akan dimengerti.
                Contoh Luk 7:40-48. Dalam konteks ini Yesus telah diundang untuk makan di rumah seorang Farisi bernama Simon. Akan tetapi undangan itu bukanlah sebagai penghormatan terhadap kunjungan seorang guru terkenal yang umumnya. Tujuan Simon dengan jelas terlihat adalah untuk meremehkan Tuhan. Ketika adalah seorang pelacur terkenal di kota itu mendapat kesempatan masuk dan bertindak tolol membasuh kaki Yesus dengan air matanya serta menyekanya dengan rambutnya, maka itu hanya memperkuat kecurigaan orang Farisi itu. Yesus tidak mungkin sebagai seorang nabi membiarkan tindakan yang memalukan di hadapan umum ini tanpa dihukum, pikirnya.
                Karena Yesus mengetahui pikiran mereka itulah maka Yesus membentangkan suatu perumpamaan. Cerita perumpamaan itu adalah cerita sederhana yaitu tentang Dua orang yang berutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berutang lima ratus dinar (satu dinar upah satu hari) yang lain lima puluh. Karena kedua orang itu tidak sanggup membayar, maka sipelepas uang menghapuskan utang kedua orang tersebut. Maksudnya: Siapa diantara kedua orang itu yang akan menanggapi tindakan pelepas uang itu dengan menyatakan kasih yang lebih besar?
                Cerita ini tidak membutuhkan penafsiran, karena Yesus langsung menjelaskan maksudnya sejelas-jelasnya. Ada tiga pokok acuan, yaitu sipelepas uang dan dua orang yang berutang. Identifikasi Yesus jelas sekali yaitu pelacur itu dan Simon adalah dua orang yang berutang. Perumpamaan itu langsung menuntut tanggapan kedua orang itu. Bagi Simon perumpamaan itu semacam sindiran karena tidak mungkin ia tidak mengerti maksud perumpamaan tersebut, sehingga ia merasa malu. Disinilah kekuatan perumpamaan itu (menemplak). Bagi pelacur bukanlah sindiran tetapi penegasan bahwa Yesus dan karenanya juga Allah sudah menerima dirinya dan sudah diampuni.
                Maksud cerita itu disimpulkan dengan nyata oleh Yesus pada ayat 47

2. Kenali Pendengar
                Dalam penafsiran perumpamaan ada tiga hal yang perlu dilakukan yaitu:
-          Baca perumpamaan berulangkali
-          Kenali pokok-pokok acuan Yesus yang pasti ditangkap oleh pendengar yang mula-mula
-          Tentukan bagaimana para pendengar mula-mula menempatkan diri dalam cerita itu dan dengan demikian menetapkan apa yang telah mereka dengar
Contoh cerita: Orang Samaria yang Murah hati (Luk 10: 25-37).  Perumpamaan ini diceritakan kepada pendengarnya yaitu seorang ahli Taurat. Ahli Taurat ini ingin membenarkan dirinya dengan bertanya “Dan siapakah sesamaku manusia?” Perumpamaan itu sama sekali tidak langsung menjawab pertanyaan itu, tetapi dengan cara yang lebih jitu perumpamaan itu mengungkapkan kebenaran diri ahli Taurat itu yang sudah merasa puas dengan dirinya. Ia sebenarnya tahu apa yang dikatakan Taurat tentang mengasihi sesama, namun tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa ia telah menaati Taurat sebagai orang saleh.
                Ada dua pokok acuan dalam cerita ini yaitu orang yang terluka dan orang Samaria. Ada dua perkara dalam cerita itu yaitu (1) kedua orang yang lewat di seberang jalan adalah golongan imam. Golongan agama ini berlainan dengan para rabi dan orang Farisi yang menjadi ahli di bidang Taurat. (2) Pemberian sedekah kepada orang miskin merupakan hal yang utama bagi orang Farisi. Beginilah cara mereka mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri. Lalu perhatikan perumpamaan ini telah menjebak ahli Taurat tersebut.
                Dalam perumpamaan itu ketika Yesus menyebutkan imam tidak menghiraukan orang yang terluka itu, dalam hatinya ia menunggu reaksi ahli Taurat yang pasti menolong orang itu, namun tidak demikian perumpamaan itu karena,  betapa malunya ahli Taurat karena orang Samarialah yang lewat berikutnya dan melakukan pertolongan. Harus dipahami bahwa orang Farisi sangat menanggap rendah orang Samaria (perhatikan bahwa ia sendiri tidak mau menggunakan kata Samaria pada akhir cerita itu).
                Apakah sebenarnya yang dilakukan Yesus kepada orang ini? Hukum kedua yang terbesar adalah mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri kita sendiri. Ahli Taurat itu mempunyai sistem kecil yang rapi yang memungkinkan ia mengasihi dalam lingkungan yang terbatas. Yang Yesus lakukan adalah mengungkapkan prasangka serta kebencian di hatinya, dan karena itu ketidaktaatannya yang sebenarnya kepada perintah ini. “Sesama manusia” tidak dapat lagi didefinisikan dengan istilah-istilah yang membatasi. Ketiadaan kasihnya bukanlah bahwa ia tidak mau menolong orang yang berada dalam kesukaran itu, tetapi bahwa ia membenci orang Samaria itu.
                Jadi mengenali pendengar dalam sebuah perumpamaan dapat mendeteksi maksud dari perumpamaan Yesus

Perumpamaan Tentang Kerajaan
                Rupanya tidak semua perumpamaan Yesus perihal perselisihan Yesus dengan orang Farisi. Ada sekumpulan besar perumpamaan tentang kerajaan, yang sengaja mengatakan “Hal Kerajaan Sorga seumpama...”
Pertama, kata tersebut jangan disamakan dengan unsur pertama yang disebutkan dalam perumpamaan itu. Maka Kerajaan Sorga tidaklah sama dengan biji sesawi, atau seorang pedagang atau harta yang terpendam di ladang, tetapi arti secara harafiah adalah “sama seperti inilah kerajaan Allah itu”. Perumpamaan itu berarti memberitahukan kepada kita mengenai sifat kerajaan itu.
                Kedua, Perumpamaan itu benar-benar merupakan wahana pengajaran yang mengharapkan tanggapan pada undangan dan panggilan Yesus agar menjadi murid-Nya dan bukan cerita-cerita yang hanya mengharapkan tanggapan biasa semata.
                Oleh karena perumpamaan-perumpamaan ini sesungguhnya mengenai kerajaan, kita dapati bahwa perumpamaan-perumpamaan ini mengumumkan kerajaan sebagai “yang sudah ada/yang belaum ada”. Kerajaan itu sudah datang; waktu Allah sudah dekat. Berarti ada dua hal penting dalam perumpamaan-perumpamaan kerajaan yaitu:
1.Penghakiman akan terjadi, bencana dan malapetaka sudah di ambang pintu
2. Tetapi ada kabar baik, keselamatan ditawarkan Cuma-Cuma buat semua orang.

Lihatlah dua contoh berikut sebagai keterangan kedua hal di atas:
1. a. Luk 12:16-20 tentang Orang kaya yang Bodoh telah diceritakan dalam suatu konteks tentang sikap terhadap harta milik dipandang dari sudut kehadiran kerajaan. Perumpamaan itu cukup mudah. Seorang kaya, oleh karena kerja kerasnya, berfikir bahwa kehidupannya telah terjamin dan ia beristirahat dengan merasa puas dengan dirinya. Akan tetapi sebagaimana yang dikatakan Yesus di tempat lain “Barangsiapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya”. Jadi orang itu bodoh dalam pengertian alkitabiah yaitu ia coba hidup tanpa memperhitungkan Allah. Tetapi bencana tiba-tiba segera akan menimpa ia.   
                Perhatikanlah bahwa pokok perumpamaan ini bukanlah kematian yang datang tanpa diduga-duga, melainkan urgensi waktu. Kerajaan itu sudah dekat. Orang adalah bodoh bila hidup untuk harta milik, untuk menjamin diri-sendiri, bila akhir hidupnya sudah di ambang pintu. Menurut pendapat Yesus bahwa keinginan untuk memiliki harta tidak sesuai mengingat keadaan masa kini.
1. b. Luk 16:1-8 tentang Bendahara yang Tidak Jujur. Cerita ini juga cukup sederhana, dimana seorang bendahara sedang menggelapkan uang, menghamburkan uang tuannya. Ia dipanggil untuk memberi pertanggungjawaban, dan karena ia sudah tahu bahwa nasibnya sudah pasti, maka satu kali lagi ia melakukan pencurian uang besar-besaran. Ia berkompromi dengan orang-orang yang berutang kepada majikannya, untuk mengubah surat utang mereka, kemungkinan dengan pengharapan supaya memperoleh teman-teman di luar. Penekanan perumpamaan ini dan bagian yang sukar bagi kebanyakan dari kita ialah bahwa para pendengar yang mula-mula mengharapkan tindakan bendahara itu dicela. Sebaliknya tipu muslihat itu dipuji.
                Apakah maksud Yesus ketika menceritakan cerita seperti itu? Mungkin sekali Ia menantang para pendengar-Nya dengan urgensi waktu. Jikalau mereka marah karena cerita sedemikian (suatu hal yang sudah sepantasnya), maka terlebih lagi mereka itu harus menerapkan pelajaran itu kepada diri mereka sendiri. Mereka berada pada posisi yang sama seperti bendaharawan itu yang melihat kebinasaan yang sudah dekat, tetapi krisis yang mengancam mereka jauh lebih hebat lagi, bendaharawan itu bertindak (perhatikan bahwa Yesus tidak memaafkan perbuatannya); ia berbuat sesuatu tentang keadaannya. Yesus mengatakan kepada saudara juga bahwa urgensi waktu menuntut tindakan, segala sesuatu dipertaruhkan

2.  Waktu yang urgen yang menuntut tindakan dan pertobatan juga menjadi waktu keselamatan. Jadi, kerajaan itu sebagaimana yang ada sekarang ini adalah kabar baik juga. Dalam perumpamaan Mat 13:44-46 (Harta Terpendam di Ladang dan Mutiara yang Berharga) penekanannya terletak pada sukacita penemuan. Dalam keadaan sukacita mereka menjual harta milik mereka untuk memperoleh harta yang terpendam dan mutiara itu. Kerajaan itu bukanlah harta itu, dan juga bukanlah mutiara. Kerajaan itu bukanlah karunia Allah. Penemuan akan kerajaan itu adalah sukacita yang tidak terkatakan.
                Jadi, beginilah caranya seorang perlu belajar membaca dan meneliti perumpamaan-perumpamaan itu. Perumpamaan itu janganlah dialegorikan. Perumpamaan itu haruslah didengar sebagai panggilan untuk memberi tanggapan kepada Yesus dan misinya.
Studi Kasus (Taurat)

Dalam Perjanjian Lama terdapat lebih dari enam ratus hukum, yang diharapkan Allah supaya ditaati orang Israel sebagai bukti kesetiaan mereka kepada Allah. Hampir keseluruhan hukum itu terdapat dalam empat kitab Musa yaitu Kitab Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan. Dalam hal ini kitab Kejadian juga masuk di dalamnya dan dikenal dengan lima kitab Musa atau Taurat Musa.
               
Pedoman awal untuk orang Kristen mengerti hubungannya dengan taurat Perjanjian Lama.

1. Taurat PL adalah suatu perjanjian.
                Allah membentuk taurat PL atas perjanjian-perjanjian kuno dan membentuk suatu kontrak yang mengikat antara Yahweh, Tuhan dan hamba-Nya Israel. Sebagai imbalan bagi berbagai keuntungan dan perlindungan, Israel harus mentaati lebih dari enam ratus peraturan itu (yaitu perintah-perintah) yang terdapat dalam hukum perjanjian yang ditemukan dalam Keluaran 20 sampai Ulangan 33.

2. PL bukanlah wasiat kita
                Wasiat adalah istilah lain bagi perjanjian. Wasiat lama mewakili suatu perjanjian Lama, yang tak perlu kita laksanakan lagi. Karena itu Perjanjian Lama tidak lagi otomatis mengikat kita saat ini. Sebenarnya, kita harus menganggap bahwa tak satupun dari ketentuannya (hukum) mengikat kita kecuali hukum-hukum itu dibaharui dalam PB.PL tidak sama dengan PB, Allah mengharapkan dari umat-Nya (kita) bukti ketaatan dan kesetiaan yang agak berbeda dari yang Ia harapkan dari orang Israel di PL. Kesetiaan masih diharapkan, tetapi yang sudah berubah dalam bebarapa hal ialah caranya seseorang menunjukkan kesetiaan itu.

3. Ada beberapa ketentuan PL yang tidak dibaharui dalam PB.
                Ada dua kategori hukum taurat yang sebagian besar tidak berlaku lagi bagi orang Kristen yaitu:
-          Hukum perdata orang Israel
-          Hukum keagamaan orang Israel
Hukum perdata menetapkan hukuman untuk berbagai kejahatan besar dan kecil yang dapat mengakibatkan seseorang ditahan dan diadili di Israel. Hukum-hukum itu hanya berlaku untuk warganegara Israel zaman kuno, dan tak seorangpun yang hidup pada masa kini menjadi warganegara Israel kuno. Hukum keagamaan merupakan bagian terbesar dari taurat PL, dan terdapat di seluruh kitab Imamat dan juga di banyak bagian kitab Keluaran, Bilangan dan Ulangan. Hukum-hukum ini memberitahukan kepada umat Israel bagaimana menjalankan praktek penyembahan, merincikan segala sesuatu dari rancangan peralatan penyembahan, tanggungjawab para imam, jenis bintang yang akan dikorbankan dan bagaimana cara mempersembahkannya.

4. Sebagian PL dibaharui dalam PB
                Beberapa segi dari hukum etika PL benar-benar diulang dalam PB sebagai sesuatu yang berlaku bagi orang-orang Kristen. Sebenarnya hukum-hukum sedemikian berdasarkan fakta bahwa hukum-hukum itu menopang dua hukum utama dari PB yang padanya bergantung seluruh Taurat “Mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama” (Ul 6:5). Dengan demikian Yesus mengutip beberapa hukum PL dan membuatnya dapat dipakai lagi (Mat 5:21-48), serta menjelaskannya lagi sehingga meliputi lebih banyak daripada hidup yang asli. Jadi, kita mengatakan bahwa segi-segi dan bukannya sekedar hukum-hukum itu sendiri yang dibaharui dari PL kepada PB, karena hanya segi-segi hukum itu yang berada langsung di bawah perintah mengasihi Allah dan sesama manusia yang merupakan kewajiban yang terus-menerus bagi orang Kristen.

5. Semua hukum PL masih merupakan firman Allah bagi kita walaupun hukum itu tidak lagi merupakan perintah Allah bagi kita.
                Di dalam Alkitab beragam perintah yang Allah mau kita ketahui, yang tidak secara langsung ditujukan kepada kita secara pribadi. Contoh dalam Mat 11:4, disitu Yesus memerintahkan “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes, apa yang kamu dengar dan kamu lihat”. Orang-orang yang mula-mula mendengar perintah itu adalah murid-murid Yohanes Pembabtis. Kita membaca tentang perintah itu, dan perintah itu bukan kita. Demikian pula orang-orang yang mula-mula mendengarkan hukum PL, ialah orang Israel zaman lampau. Kita membaca tentang taurat itu; itu bukanlah taurat bagi kita.

6. Hanyalah bagian yang dengan tegas dibaharui dari taurat PL dapat dianggap sebagai bagian dari “hukum Kristus” di Perjanjian Baru (Gal 6:2). Dalam kategori sedemikian termasuk Kesepuluh Perintah, karena hukum-hukum ini dikutip dalam berbagai cara di PB, sebagai hukum yang masih berlaku untuk orang Kristen, dan dua hukum yang besar dalam Ul 6:5 dan Im 19:18. Tidak ada hukum PL lainnya yang dapat dibuktikan masih tetap berlaku untuk orang Kristen, walaupun berharga sekali bagi orang Kristen untuk mengetahui semua hukum itu.  

Peranan Taurat di Israel dan di Alkitab
                Adalah sesuatu yang keliru jika kita menyimpulkan bahwa Taurat tidak lagi bermanfaat dalam Alkitab. Taurat berfungsi dalam sejarah penyelamatan sebagai “penuntun bagi kita sampai Kristus datang” (Gal 3:24), dengan menunjukkan betapa tingginya kaidah kebenaran Allah dan betapa tidak mungkinnya bagi setiap orang untuk memenuhi kaidah-kaidah itu tanpa pertolongan ilahi. Taurat itu sendiri tidak meyelamatkan Israel, Allahlah yang menyelamatkan Israel yaitu menyediakan jalan kelepasan dari Mesir, penaklukan tanah kanaan, kemakmuran sebagai penduduk di tanah perjanjian itu. Taurat tidak melakukannya sama sekali, tetapi hanya menunjukkan istilah persetujuan kesetiaan Israel terhadap Allah.
                Dalam arti ini taurat berlaku sebagai suatu model/pola. Taurat bukan suatu daftar panjang yang lengkap mengenai segala sesuatu yang harus dan dapat dilakukan untuk menyenangkan hati Allah pada zaman Israel kuno, sebaliknya taurat lebih banyak memberikan contoh tentang maknanya berlaku setia kepada Allah.

1. Hukum Umum (apodiktis)
                Contoh Imamat 19:9-14, dimulai dengan kata “hendaklah atau janganlah”. Hukum-hukum ini merupakan perintah langsung, yang berlaku umum yaitu memberitahukan kepada orang Israel hal-hal apa yang mereka harus lakukan untuk memenuhi bagian mereka dalam perjanjian dengan Allah. Namun jelas sekali hukum-hukum itu tidaklah lengkap karena hanya suatu model atau pola. Kalau dilihat hukum itu hanya membicarakan anggur lalu bagaimana buah yang lain seperti zaitun apakah tidak ada kewajiban untuk membagikannya dengan orang lain? Tentu tidak. Hukum itu bersifat pola yang menetapkan suatu kaidah dengan memberi contoh. Lalu perhatikan ayat 13b-14, tujuan dari pernyataan ini adalah melarang penahanan upah para pekerja harian serta perlakuan yang kasar terhadap orang-orang cacat. Pernyataan-pernyataan dalam taurat itu dimaksudkan sebagai suatu pedoman yang dapat diandalkan dengan kegunaan yang umum bukan suatu paparan teknis dari semua keadaan yang mungkin kita bayangkan. Demikian juga orang buta dan tuli hanyalah contoh-contoh yang dipilih dari antara segala orang yang kelemahan jasmaniahnya menuntut agar mereka itu dihormati dan bukan dihina.
                Perhatikanlah hukum-hukum yang umum atau apodiktis dari PL tidak berfaedah bagi seseorang yang ingin memudahkan ketaatan pada hukum-hukum itu.Sebaliknya hukum-hukum ini walaupun terbatas dalam kata-katanya, namun sebenarnya sangat luas pengertiannya. Oleh karena itu, jikalau seseorang hendak melaksanakan maksud hukum PL, pastilah pada akhirnya ia akan gagal. Tidak seorangpun yang dapat menyenangkan hati Allah secara tetap menurut kaidah-kaidah yang begitu luas dan tinggi itu (Rm 8:1-11). Pendekatan orang Farisi yang menaati huruf dan angkanya saja hanya berhasil dalam jasmaniahnya dan sama sekali bukan rohnya. Dengan demikian keberhasilan mengamalkan ini tidak pernah dapat sungguh-sungguh sebagimana yang dikehendaki Allah.
                Dalam hal ini taurat menunjukkan kepada kita betapa tidak mungkinnya orang memperkenankan Allah dengan kekuatan sendiri. Dengan demikian tatkala kita membaca taurat PL, kita harusnya merasa rendah hati karena mengerti betapa kita sama sekali tidak layak untuk menjadi milik Allah. Kita seharusnya tergerak untuk memuji dan berterimakasih kepada-Nya karena terlepas dari penggenapan taurat PL secara manusiawi, karena kalau tidak tidak ada pengharapan sama sekali untuk berkenan kepada Dia.

2. Hukum kasus-demi kasus (Kasuistis)
                Contoh Ulangan 15:12-17, unsur-unsur dalam hukum ini adalah bersyarat, yang hanya berlaku jika seandainya:
-          Saudara seorang Israel mempunyai sekurang-kurangnya seorang budak atau
-          Saudara seorang Israel mempunyai seorang budak yang mau atau tidak mau tetap menjadi budak saudara dengan sukarela sesudah masa budaknya berakhir.
Jikalau saudara bukan seorang Israel atau tidak mempunyai budak, hukum itu tidak berlaku bagi saudara. Jikalau saudara sendiri seorang budak, maka hukum itu hanya berlaku secara tidak langsung bagi saudara dalam hal hukum itu melindungi hak-hak saudara. Berarti hukum itu bersyarat didasarkan pada keadaan yang mungkin yang bisa atau tidak berlaku pada seseorang tertentu pada suatu waktu tertentu.
                Hukum kasuistis menunjukkan bahwa tidak satupun diantaranya yang secara tegas dibaharui dalam PB. Oleh karena hukum-hukum sedemikian berlaku secara khusus pada kehidupan sipil, agama dan etis bangsa Israel, maka oleh sifatnya itu hukum-hukum tersebut terbatas kegunaannya dan sebab itu tidak mungkin berlaku bagi orang Kristen. Kalau begitu apa yang dapat kita pelajari dari Ul 15:12-17?
Pertama: Memerdekakan budak-budak sesudah enam tahun memberikan pembatasan penting pada praktek perbudakan, sehingga praktek itu tidak dapat disalahgunakan melampaui batas-batas waktu yang pantas. Dengan demikian walaupun secara pribadi kita tidak memiliki budak, namun kita dapat melaihat bahwa ketetapan Allah bagi perbudakan di bawah PL bukan suatu peraturan kejam yang kasar.
Kedua: Kita tahu bahwa Allah mengasihi budak-budak, yang ditampakkan dalam usaha perlindungan yang ketat yang ditetapkan dalam hukum itu. Tuntutan kemurahan terhadap budak karena Allah sendiri baik terhadap Israel, umat-Nya yang dahulu adalah budak.
Ketiga: Kita tahu bahwa perbudakan dapat dipraktekkan dalam suatu cara yang begitu lunak sehingga keadaan para budak itu lebih baik dalam perhambaan daripada keadaan bebas mengingat zaman itu di Palestina kehidupan ekonomi cukup sulit.
Keempat: pemilik budak itu sebenarnya tidak memiliki budak itu sepenuhnya.
Kelima: Pengamatan ini merupakan pelajaran yang berfaedah bagi kita. Tidak jadi soal apakah hukum dalam Ulangan ini bukanlah suatu perintah yang ditujukan langsung kepada kita mengenai kita. Yang penting ialah berapa banyaknya yang dapat kita pelajari dari hukum itu mengenai Allah, tuntutan-Nya akan keadilan, cita-cita-Nya untuk masyarakat Israel, dan hubungannya dengan umat-Nya yang terutama berkenaan dengan “penebusan”. Maka hukum ini memberikan kepada kita:
  1. sebagian penting dari latar belakang PB mengenai penebusan
  2. suatu gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana perbudakan perbudakan dalam PL itu berlainan sama sekali dengan apa yang biasanya kita pikirkan tentang perbudakan
  3. suatu pandangan mengenai kasih Allah yang tidak dapat kita miliki tanpa hukum ini.
Dengan kata lain, bagian Alkitab yang menyangkut hukum ini, masih tetap merupakan firman Allah yang indah bagi kita, walaupun nyata firman itu bukan suatu perintah dari Allah kepada kita  

Manfaat taurat PL bagi Israel
                Kesanggupan Taurat untuk menyediakan hidup kekal sama sekali tidak memadai, dan Taurat memang tidak dimaksudkan untuk itu. Maka siapa saja yang berupaya melakukan Taurat untuk mendapatkan keselamatan pasti akan gagal, karena pada hakikatnya tidak ada seorangpun yang sempurna mentaati Taurat itu. Dan melanggar satu hukum saja menyebabkan seorang menjadi “pelanggar hukum” (Yak 2:10).
                Walaupun demikian jika tujuan hukum-hukum itu dipahami dengan semestinya, maka Taurat dapat dianggap sebagai sesuatu yang bermanfaat bagi orang Israel, yaitu suatu contoh yang luar biasa tentang anugerah Allah pada umat-Nya.

1. Mengenai makanan
                Contoh Im 11:7, “Demikian juga babi hutan...haram itu bagimu”. Hukum ini tidak dimaksudkan oleh Allah sebagai pembatasan yang sewenang-wenang dan aneh pada orang Israel. Tetapi hal itu sebagai perlindungan yang sungguh-sungguh terhadap makanan yang kebanyakan dilarang adalah jenis makanan tertentu, karena:
-          Kemungkinan membawa penyakit dalam iklim yang gersang di padang pasir
-          Kurang ekonomis untuk dipelihara sebagai makanan dalam lingkungan agraria di padang pasir seperti kesulitan air
-          Makanan yang umumnya disukai untuk ritual keagamaan oleh kelompok-kelompok yang kebiasaannya tidak boleh diikuti oleh orang Israel.

2. Mengenai penumpahan darah
                Contoh Kel 29:10-12, Undang-undang seperti ini menentukan suatu norma yang penting bagi orang Israel. Dosa patut dihukum, karena Allah menyatakan bahwa orang berdosa terhadap Allah tidak layak untuk hidup. Tetapi, Allah juga menyediakan suatu prosedur untuk orang berdosa itu agar dapat luput dari kematian, darah pengganti dapat ditumpahkan. Maka Allah menawarkan untuk menerima kematian makhluk lain sebagai pengganti kematian orang berdosa di antara umat-Nya. Sistem itu adalah bagian yang perlu bagi keberlangsungan kehidupan Israel (Ibr 9:22). Yang terutama, hukum-hukum yang menuntut sebuah korban pengganti menetapkan suatu pola untuk karya penebusan yang dilakukan Kristus sebagai pengganti. Kematian Kristus memenuhi tuntutan Taurat dan merupakan dasar bagi Allah untuk menerima kita. Taurat PL menjadi sebagai latar belakang yang hidup untuk peristiwa yang besar itu di dalam sejarah.

3. Larangan yang tidak lazim
                Contoh Ul 14:21, “Janganlah engkau masak anak kambing dalam air susu ibu induknya”. Apa salahnya hal ini, dan beberapa hukum lain seperti “Jangan kawinkan dua jenis ternak”, “Jangan taburi ladangmu dengan dua jenis benih”, “Janganlah pakaian dibuat dengan dua jenis bahan” (Im 19:19).
                Tidak ada yang salah dengan hukum itu karena larangan itu dimaksudkan untuk melarang bangsa Israel supaya tidak terlibat dalam upacara-upacara kesuburan yang bersifat kafir dari bangsa Kanaan. Orang kanaan percaya gagasan perbuatan-perbuatan yang simbolis dapat mempengruhi dewa-dewa serta alam. Mereka mengira bahwa merebus anak kambing dalam air susu induknya secara gaib akan menjamin kesuburan terus-menerus dari kawanan ternak. Mencampurkan jenis keturunan binatang, benih atau bahan dianggap “mengawinkan” jenis-jenis itu agar secara gaib pula menghasilkan “keturunan”, yaitu kelimpahan hasil pertanian di hari yang akan datang. Allah jelas tidak dapat memberkati umat-Nya jika mereka mengerjakan hal-hal aneh dan rumit seperti itu.

4. Memberi berkat kepada orang yang mematuhinya
                Contoh Ul 14:28-29, sudah tentu semua hukum Israel dimaksudkan untuk menjadi sarana berkat bagi umat Allah. Akan tetapi beberapa hukum secara khusus menyebutkan bahwa hal mematuhi hukum-hukum itu akan memberikan berkat. Hukum perpuluhan menyatakan berkat ketaatan. Jikalau orang-orang tidak mempedulikan kaum Lewi, yatim piatu, janda-janda, maka Allah tidak dapat memberikan kemakmuran. Hukum ini memberikan keuntungan bagi orang yang membutuhkan pertolongan dan mengutntungkan bagi mereka yang membantu mereka yang kekurangan. Hukum seperti itu tidak membatasi ataupun menghukum, sebaliknya hukum itu menjadi suatu wahana bagi perbuatan baik dan hukum sedemikian mengandung pelajaran untuk kita maupun untuk orang Israel pada zaman dahulu. 

Pedoman hermeneutik: Yang boleh dan yang tidak boleh

  1. Lihatlah taurat PL sebagai firman Allah yang diilhamkan sepenuhnya bagi saudara. Janganlah memandang taurat PL sebagai perintah Allah yang langsung kepada saudara
  2. Lihatlah taurat PL sebagai dasar untuk PL dan karenanya dasar untuk sejarah Israel. Janganlah memandang taurat PL sebagai hal yang mengikat orang Kristen dalam PB, kecuali bila hal itu diulang secara khusus
  3. Lihatlah keadilan, kasih serta norma-norma yang tinggi dari Allah yang dinyatakan dalam taurat PL. Jangan lupa melihat bahwa rahmat Allah sepadan dengan kekerasan kaidah-kaidah itu
  4. Janganlah memandang taurat PL sebagai sesuatu yang lengkap. Secara teknis taurat itu tidak meliputi segala hal. Pandanglah taurat PL sebagai suatu model pola yang memberi contoh-contoh untuk seluruh perilaku yang diharapkan
  5. Janganlah mengharapkan taurat PL untuk dikutip seringkali oleh para nabi atau PB. Ingatlah bahwa inti taurat (sepuluh firman dan dua hukum yang utama) diulang dalam kitab nabi-nabi dan dibaharui dalam PB
  6. Pandanglah taurat PL sebagai suatu karunia yang dermawan kepada orang Israel, yang membawa banyak berkat bila ditaati. Janganlah pandang taurat PL sebagai sekelompok peraturan yang sewenang-wenang serta menyebalkan dan membatasi kekesan orang.

NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner

-->